Page 43 - hujan
P. 43
6
MALAM kedua. Lail dan Esok tidur di tenda pengungsian.
Situasinya lebih baik dibanding tenda rumah sakit. Ada kasur-kasur tipis, juga
bantal, serta selimut seadanya. Mereka juga sudah berganti pakaian, bukan lagi
seragam sekolah. Tenda ditutup rapat-rapat oleh petugas saat malam. Abu
semakin tebal di luar, sangat berbahaya. Masker yang dibagikan sudah diganti
dengan masker plastik yang lebih kuat. Mereka beruntung, tidak semua
penduduk bisa memperoleh masker. Jutaan pen duduk di dunia meninggal
karena abu itu, tercekik.
Sore tadi, Esok sempat menjenguk ibunya di rumah sakit. Ibu nya masih belum
siuman. Sementara Lail hanya melamun di tenda. Dia tetap tidak berselera
makan, tidak semangat melaku kan apa pun. Piring berisi jatah makan malamnya
teronggok tanpa disentuh.
Malam itu suhu bumi mulai turun drastis, lima sampai enam derajat Celsius.
Meski dengan selimut di dalam tenda tertutup rapat, udara tetap terasa dingin
menusuk tulang. Letusan gunung menyemburkan miliaran kubik material ke
angkasa. Sebagian besar material itu, seperti abu dan partikel berat lainnya,
luruh ke bumi, sebagian lagi tidak. Saat Gunung Toba meletus 73.000 tahun
lalu, ada enam miliar ton emisi gas sulfur dioksida yang masuk ke lapisan stra-
tosfer. Gas itu menghalangi cahaya matahari yang meng hangatkan bumi,
membuat suhu rata-rata permukaan bumi turun drastis hingga lima belas
derajat Celsius selama sepuluh tahun, yang baru berangsur normal ratusan
tahun berikutnya. Itulah yang disebut masa volcanic winter.