Page 34 - hujan
P. 34
” Kalau begitu, sementara waktu kamu bisa ikut denganku. Ibuku ada di
rumah, semoga dia baik-baik saja.” Esok meng usap rambutnya sekali lagi.
Suaranya tidak seyakin itu.
Lail terdiam, menatap hamparan pasir yang basah di depan mereka.
Pagi itu, pada hari yang selalu diingat penduduk bumi, saat Lail kehilangan
seluruh keluarganya, dia justru menemukan seseorang yang akan penting dalam
hidupnya delapan tahun kemudian. Lail bertemu dengan Esok, anak laki-laki
yang sejak dini sudah istimewa. Dan kisah ini, terlepas dari kecamuk akibat
gunung meletus skala 8 VEI, sejatinya adalah tentang mereka.
Dalam kehidupan Lail, hal-hal penting selalu terjadi saat hujan, juga seperti
saat itu, saat Lail berdiri menatap ke luar jendela plastik rumah-rumahan
berwarna oranye, menatap hujan yang ma kin deras, seolah menyampaikan
dukacita bagi penduduk kota.
***
Esok adalah anak bungsu dari lima bersaudara (dua di antaranya kembar).
Empat kakaknya laki-laki dan dia sehari-hari terbiasa menghadapi sibling rivalry,
membuatnya matang lebih cepat. Ayahnya meninggal saat Esok masih dua
tahun. Sejak saat itu mereka lima bersaudara harus mandiri. Ibunya sibuk
bekerja, mem buka toko kue di rumah—tempat yang mereka tuju satu jam
kemudian.
Hujan reda, menyisakan basah. Tidak ada bus kota, apalagi kereta bawah
tanah. Transportasi lumpuh total. Mereka berjalan kaki menuju rumah yang
searah. Rumah Lail lebih dulu, ke mudian toko kue keluarga Esok. Hampir
delapan kilometer menuju rumah Lail, kedua anak itu berjalan melewati seluruh
kesedihan kota. Sesekali mereka berhenti, menatap gedung yang pernah mereka
kunjungi, yang sekarang hancur. Mereka susah payah melewati reruntuhan
bangunan, mendaki trem yang terbalik dan melintang di jalan, memutar jalan
karena jembatan runtuh. Mereka berpapasan dengan mobil pemadam
kebakaran, ambulans, polisi, dan petugas kota lainnya yang memberikan
pertolongan pertama.