Page 33 - hujan
P. 33

bersamanya sekarang.

                  ”Aku  kelas  sepuluh....  Ini  hari  pertama  kita  sekolah.  Tapi  se pertinya  tidak  akan

                ada   sekolah   hari   ini.   Juga   besok-besoknya.”   Anak   laki-laki   itu   mengembuskan
                napas.

                  ”Apakah  mereka  mungkin  masih  selamat?”  Lail  bertanya  de ngan  suara  kalut—

                seperti takut mendengar jawabannya.
                  ”Selamat? Siapa?”

                  ” Ibuku. Yang terjatuh di lubang tangga. Apakah mungkin ma sih selamat?”

                  Hening    beberapa   detik,   menyisakan    suara   hujan   yang   jatuh   di   luar   rumah-
                rumahan plastik. Mereka berdua persis berdiri di depan jendela rumah-rumahan

                berwarna  oranye  yang  terbuka  lebar.  Di  kejauhan,  suara  sirene  sahut-menyahut.

                Sepertinya  tim  evakuasi—yang  tersisa—mulai  bekerja,  juga  pasukan  pemadam
                ke bakaran, polisi, dan petugas-petugas kota.

                  Esok  menggeleng.  ” Tidak  akan  ada  yang  selamat,  juga  empat  kakakku.  Mereka

                tertimbun reruntuhan lorong kereta.”
                  Lail   menyeka   matanya.    Sedih   memikirkan     ibunya   yang   ditelan   reruntuhan

                tanah.

                  ” Empat   kakak    laki-lakiku,”   Esok   mengusap    wajahnya,    juga   ter lihat   sedih,
                ”mereka  selalu  saja  terlambat  pergi  ke  sekolah,  sibuk  bertengkar,  saling  menjaili,

                menyembunyikan sepatu, dan aku jadinya ikut terlambat ke sekolah. Seharusnya

                kami  sudah  berangkat  tiga  puluh  menit  sebelum  kapsul  kereta  yang  tadi...  Tapi

                entahlah,   kalaupun    tepat   waktu,   mungkin    sama   saja,   ge dung   sekolah   roboh.
                Setidaknya aku bersama mereka saat-saat terakhir.”

                  Lail  menatap  wajah  Esok.  Mereka  senasib,  kehilangan  orang  yang  disayangi  di
                lorong kereta tadi.

                  ”Apa yang harus kita lakukan sekarang?”

                  ” Menunggu  hujan  reda,”  Esok  menjawab  pelan.  ”Setelah  itu,  kita  bisa  pulang,

                memeriksa rumah. Kamu punya keluarga di ru mah?”
                  Lail   menggeleng.    Ayahnya    di   luar   negeri.   Dia   tidak   tahu   harus   ke   mana

                sekarang.
   28   29   30   31   32   33   34   35   36   37   38