Page 35 - hujan
P. 35
Mereka tidak banyak bicara, terus berjalan. Esok dengan sabar membantu Lail
melewati hambatan di jalan, memegangi tangan nya saat memanjat reruntuhan,
menjaganya, dan memastikan Lail baik-baik saja.
Mereka berdua berhenti lama di kolam air mancur Central Park. Landmark
paling terkenal di kota. Seharusnya kolam itu terlihat indah. Air mancurnya
setinggi sebelas meter. Burung-burung merpati yang hinggap di pelataran, kursi-
kursi taman yang dipenuhi warga kota, juga turis yang asyik berfoto tidak ada
lagi di kolam itu, digantikan bongkahan pucuk gedung. Ini tempat favorit Lail.
Dia suka pergi ke kolam air mancur ber sama ayah dan ibunya.
Mereka tiba di rumah Lail satu jam kemudian.
Lail terduduk di jalanan, menangis tanpa suara. Kompleks rumahnya sudah
rata dengan tanah. Entahlah, apakah ada te tangga yang selamat. Sejauh mata
memandang hanya reruntuhan yang ada. Pagar rumah roboh. Jendela, pintu,
genting, semen, dan batu bata berserakan. Juga toren air berwarna oranye meng-
gelinding di jalan.
Lima belas menit membiarkan Lail tenggelam dalam ke sedihan, Esok
menyentuh pundak Lail. ”Aku harus segera ke rumah ku, Lail. Kamu mau ikut?”
Lail hendak menggeleng. Ini rumahnya. Dia tidak akan ke mana-mana. Jika
ayahnya selamat, kembali ke kota ini, tempat pertama yang dituju ayahnya
adalah rumah mereka. Tapi tidak ada yang bisa dia lakukan sekarang di sini.
Bagaimana jika malam tiba? Dia akan bermalam di mana? Lail tidak punya
saudara di kota itu, kakek-nenek dan saudara kedua orangtua nya tinggal di kota
lain, dan dia tidak tahu kabar mereka.
”Ayo, Lail. Kamu lebih baik ikut bersamaku. Semoga toko kue baik-baik saja,
dan saluran teleponnya masih bisa digunakan. Kamu bisa menghubungi
keluargamu dari sana.” Esok memberi kan alasan baik.
Lail mengangguk, beranjak berdiri. Sekali lagi dia menatap rumahnya yang
tinggal tumpukan puing, kemudian melangkah pelan di belakang Esok.
Toko kue itu dua kilometer dari rumah Lail. Mereka kembali berjalan dalam
diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Lail memikirkan ibunya di lorong