Page 36 - hujan
P. 36

kereta  bawah  tanah,  bagaimana  meng ambil  tubuh  ibunya  dari  sana?  Esok  yang

                berjalan di depan memikirkan ibunya di rumah. Apakah ibunya selamat?

                  Hanya  ada  satu  bangunan  yang  masih  berdiri  di  sepanjang  jalan  itu.  Toko  kue.
                Esok   berlari   melihatnya.   Dadanya   berdegup    lebih   kencang.   Wajahnya    terlihat

                harap-harap  cemas.  Dia  men dorong  pintu  toko.  Gempa  bumi  membuat  pintu

                itu  terjepit,  tidak  bisa  dibuka.  Esok  tidak  sabaran,  memukul  jendela  kaca  yang
                sudah pecah separuh dengan ranselnya, lantas masuk lewat jendela.

                  R ak-rak  toko  terbalik.  Kue  kering  berserakan  di  lantai.  Plafon  toko  runtuh  di

                beberapa  bagian,  membuat  lantai  semakin  be rantakan.  Tepung  terigu  tumpah.
                Esok  berseru-seru  memanggil  ibunya.  Matanya  awas  memeriksa.  Ini  jam  buka

                toko. Ibunya pasti ada di dalam toko.

                  Sementara  Lail  menunggu  di  luar,  menatap  lewat  jendela  kaca  yang  pecah.  Di
                sekitar  mereka  sirene  ambulans  meraung.  Be berapa  petugas  kesehatan  telah  tiba

                di bagian kota itu.

                  Beberapa  jam    lalu,   Lail   tidak   mengenal   Esok.   Anak   laki-laki   usia   lima   belas
                tahun  itu  bukan  siapa-siapanya.  Tapi  detik  itu,  sambil  mengepalkan  jemarinya,

                menatap     Esok   yang   meme riksa    khawatir   seluruh   sudut   toko,   Lail   sungguh

                berdoa, semoga ibu Esok selamat.
                  Semoga masih ada keajaiban tersisa.
   31   32   33   34   35   36   37   38   39   40   41