Page 17 - My FlipBook
P. 17

Bismillah…. Semoga tidak kesetrum dan tidak terjadi apa-apa. Kuambil alat. Kulepaskan

               saklar pompa dari aliran listrik. Tak tik tak tik…. Kucoba sebisa-bisanya. Hidupkan. Matikan.
               Hidupkan. Matikan. Bongkar. Pasang. Bongkar. Pasang. Bongkar. Setelah 1 jam mencoba,

               mesin air itu bisa nyala dan mengalirkan air lagi. Yaa Allah, alhamdulillah. Seneng rasanya.
                     Akhirnya, kupeluk anak-anakku dengan erat. ‘Kita melalui semua ini tanpa ayah ya Nak.’

               Bisikku lirih. Anakku hanyak mengangguk. Ada bulir bening mengalir di pipi.

                     ‘Ayah…. Aku bisa melewati ini.’
                      Kupanggil namamu dalam batinku.


               Sejuta Rasa Meninggalkan KNU, Meninggalkan Asian Agri Group (Episode 3)

               Depok diguyur hujan semalaman. Lebat sekali, seakan bumi ini hendak ditenggelamkan.
               Hanya berdoa, semoga hujan ini adalah karunia Ilahi yang membawa keberkahan dan
               keamanan untuk semuanya. Bukan hujan yang berefek banjir di mana-mana, terlebih
               banjir di Jakarta. Khawatir saja, karena faktor alam, pemimpinnya dipersalahkan. Ah
               sudahlah….
               Pagi ini, cuaca di luar rumah nampak mendung dan matahari enggan menampakkan
               diri. Kulihat dari jendela kamar, tak ada aktivitas berarti, lengang dan sepi. Semuanya
               seperti enggan keluar rumah. Mereka lebih suka berdiam diri dan menikmati
               kebersamaan dengan keluarga tercinta.
               Suasana pagi ini mengingatkanku pada KNU yang kelabu. Hujan sudah mengguyur bumi
               KNU semalaman tanpa henti, dilanjut pagi itu rintik-rintiknya masih terdengar jatuh di
               atap rumah. Namun planterku sudah bersiap dari tadi, berharap hujan segera berhenti
               agar agenda kerjanya bisa dilaksanakan hari ini. Sesekali pandangannya tertuju keluar,
               memandangi rintik hujan yang membasahi dedaunan.
               Adalah memupuk area kebun dan menunas pelepah sebagai target mingguan yang
               harus tuntas. Karena hari hujan, tak mungkin memupuk kebun dapat dilaksanakan hari
               ini, gumamnya. Dengan area tergenang air, pupuk tidak akan optimal terserap tanaman
               tapi justu akan dibawa oleh air hujan ke parit di seputaran blok. Tidak ada efek
               perbaikan dan manfaat untuk tanaman. Berarti agenda memupuk harus direschedulle
               lagi, pungkasnya.
               Menunas pelepah adalah hal penting untuk dilakukan. Tidak teraturnya kerjaan
               menunas bisa berakibat pada turunnya hasil produksi TBS (Tandan Buah Segar) kelapa
               sawit. Namun bila hari hujan seperti ini, pekerjaan menunas tidak bisa maksimal. Tapi
               apalah daya, faktor cuaca, katanya pada diri sendiri. Aku hanya diam, tidak tahu harus
               berkata apa. Paling, aku hanya bisa tersenyum sembari menyodorkan teh hangat dan
               makanan kecil menemaninya menunggu hujan reda.
               Di kebun, kalo hari hujan biasanya para pekerja tidak langsung ke lapangan/ area kebun
               kelapa sawit. Mereka akan menunggu hujan reda dan menunggu instruksi dari
               mandornya. Dan para mandor melakukan kerja setelah ada arahan dari asisten.
               Pengawasan lapangan langsung akan dilakukan oleh seorang mandor besar.
               Sembari menikmati hujan yang masih turun di luar sana, planterku memulai cerita.
               Adalah seorang rekan menyampaikan ada sebuah perusahaan yang sedang
               membutuhkan seorang manager kebun. Kebunnya tidak begitu jauh dari tempat kami,
               masih satu kecamatan, tapi lokasinya dekat dengan jalan raya, sehingga akses ke kota
   12   13   14   15   16   17   18   19   20   21   22