Page 22 - My FlipBook
P. 22

jam sampai ujung pulau baru setelah itu dilanjutkan dengan sampan (perahu kecil) ke pulau

               persinggahan untuk selanjutnya ditempuh dengan gethek untuk sampai di tempat tugas.
                     Banyak cerita yang kudengar. Banyak di antara teman-teman seperjuangan menangis

               karena tidak tahan dengan keadaan tempat tugas. Namun karena ikatan kecintaan pada CPNS
               ini, mereka tetap lalui walau dengan beraneka rasa.

                     Biasanya, keadaan yang sulit dan terasa aneh serta menyengsarakan itu dirasakan oleh

               mereka yang  berasal dari kota atau pinggiran kota di mana akses jalan ke mana-mana sangat
               mudah. Mereka tak pernah membayangkan ada bagian bumi Labuhan Batu yang hanya bisa

               dicapai dengan sampan atau perahu kecil. Mereka tak pernah membayangkan hidup  tanya
               listrik, tanpa TV ataupun lainnya di daerah tersebut. Mereka tak pernah berfikir untuk makan

               seadanya dari hasil laut yang dibawa nelayan dari melaut. Di sana tidak ada  pizza, burger,

               breadtalk atau bakso dan mie ayam sebagaimana saat mereka di kota. Sehari-hari mereka hanya
               menjumpai makanan olahan dari ikan serta sayuran yang bisa tumbuh di pulau tersebut.

                     Namun,  itulah  hidup.  Pahit  serasa  di  awal,  tak  selamanya  terasa  pahit  di  ujung.
               Kebersamaan  dan  penghormatan  yang  diberikan  masyarakat  bagi  para  guru  baru  tersebut

               merupakan nikmat tersendiri. Nikmat yang mungkin tak ada bagi mereka yang ditempatkan di
               kota seperti aku.

                     Kumasuki pelataran sekolah dengan tak menentu. Kuarahkan motorku ke tempat motor

               yang berjajar. Berharap aku tidak salah memparkirkan motorku di tempat tersebut. Tak ada
               satupun orang yang bisa kutanya. Sepertinya, sekolah itu tanpa satpam/ security yang bertugas

               di depan pintu masuk.
                     Menginjakkan kakiku di tempat ini terasa gamang. Tempat ini begitu asing dan tak ada

               satupun yang kukenal. Yah, aku memang orang perantauan dan tak ada yang kukenal di kota

               terlebih di sekolah ini. Tujuanku adalah menjumpai kelapa sekolah untuk melapor bahwa aku
               akan melaksanakan tugas di sekolah ini.

                     Segera kulangkahkan kakiku ke arah pintu utama di  mana kudengar sayup-sayup ada
               percakapan. Ternyata suara itu berasal dari dua guru yang sedang melaksanakan piket harian

               yang tempatnya di lobby persis di samping pintu utama. Setelah berucap salam dan bertutur

               sekedarnya, aku minta ijin untuk menjumpai kepala sekolah.
                     Aku  menuju  ke  ruang  kepala  sekolah  yang  menurut  penjelasan  guru  piket  tadi

               ruangannya ada di lantai 2 gedung ini. Dengan langkah agak bergetar, kunaiki anak tangga
               sampai kujumpai sebuah ruang dengan pintu kaca persis di depan anak tangga terakhir.

                     Segera kuberucap salam dan mengetuk pintu ruang tersebut. Setelah mendengar suara
               ijin  dari  dalam,  kubuka  pintu  kaca  tersebut  dengan  perlahan.  Kumasuki  ruangan  itu  dan
   17   18   19   20   21   22   23   24   25   26   27