Page 164 - CERPEN 9A - Copy
P. 164

Zea terdiam karena jantungnya saat ini tidak aman. Jantungnya berdebar debar

              begitu  kencang  karena  Azer.  Sedangkan,  Inayah  yang  melihat  itu sempat  kesal dan

              memukul handphonenya karena  tiba-tiba error saat ingin memotret mereka berdua

              disaat  moment  langka  seperti  ini,  tetapi  handphone  nya  malah  tidak  berguna.  Jam

              17.45  Azer  pun  pamit  untuk  pulang  karena  pasti  orang  tuanya  sudah  menunggu

              dirumah. Sedangkan, Inayah tetap berada di rumah Zea dan pulang saat sudah jam 8

              malam.

                      Saat Azer ingin menyalakan motornya, Zea memerhatikan dan menunggunya di

              depan pintu rumahnya. Tiba-tiba Inayah datang dan disusul oleh adiknya Zea.
              " Eh, Rania dadah dulu ke calon kakak iparmu " ucap Inayah kepada adiknya Zea.


              Azer pun terlihat bingung lalu tersenyum kearah Zea, namun Zea malu dan langsung
              memalingkan  wajahnya  berpura-pura  tidak  tahu  apa-apa.  Kemudian,  Rania


              melambaikan  tangannya  kepada  Azer,  dan  Azer  pun  tersenyum.  Zea  sempat  kesal
              kepada Inayah karena ia tidak berpikir dulu saat ingin mengucapkan dan menyuruh


              orang melakukan sesuatu.
                      Setelah Azer sampai dirumah, Zea memberanikan diri untuk mengechat Azer


              terlebih dahulu. Dan Azer meresponnya dengan sangat baik. Setiap hari, Zea selalu
              memulai  obrolan  duluan  karena  jika  tidak  seperti  itu,  mereka  tidak  akan  Chatan.


              Lama-kelamaan, Azer pun nyaman dengan Zea. Mereka selalu bercanda dan bertanya
              tentang sesuatu agar bisa saling mengenal satu sama lain. Seiring berjalannya waktu,


              Azer dan Zea pun menjadi teman yang bisa dibilang cukup dekat. Bahkan, Azer pun
              mulai sering untuk memulai obrolan duluan dengan Zea.



              ***


              Pada suatu hari disekolah.
              Saat itu, Zea sedang memakai kaus kaki di bangkunya. Tiba-tiba, Teman sekelasnya


              memanggilnya.


                                                                                                           164
   159   160   161   162   163   164   165   166   167   168   169