Page 171 - CERPEN 9A - Copy
P. 171
"Oh, iyo ta mbak? maaf kalau gitu. Tak kirain mbak itu bidadari, soalnya cantiknya
kelewatan" gombal kurir paket itu.
"Lebih baik paketnya kasih saya sekarang, atau saya teriak kalau masnya mesum?"
Ucapku dengan kesal.
"Lho, yo jangan toh mbak. Saya mesum dari mana nya? gombal doang masa
dikatain mesum. Piye toh mbak. Yowes, ini paketnya.. tapi tanda tangan dulu yo
mbak." ucap kurir paket itu sambil memberikan paketnya kepadaku.
"Ngomong-ngomong mbak orang mana toh? Kok engga pake bahasa Jawa?"
"Saya bukan asli sini, saya dari Kalimantan. Orangtua saya asli Jawa, tapi kalo disuruh
ngomong pakai bahasa Jawa saya bisa sedikit dan ngerti bahasanya"
Setelah Aku selesai menandatangani, aku pun mengambil paket itu darinya. "Udah,
lebih baik mas pergi sekarang.. ya?" ucapku sekali lagi.
"Sek toh mbak, aku jaluk nomor e sampeyan oleh ta?" ucap nya sambil
menyodorkan handphonenya kepadaku.
"Maaf ngga bisa, saya sudah punya tunangan soalnya" ucapku.
"Oh, maaf yo mbak..Kulo yo mboten ngerti, lagian mbak e yo ngga ngomong dari awal
tadi.yowes saya permisi kalau gitu. Monggo mbak" ucap kurir paket itu kemudian
menaiki motornya lalu pergi.
Aku pun masuk ke dalam kontrakan dan menutup pintu. "Ya Allah, kenapa
aku bilang sudah punya tunangan sih? Padahal kan cowok aja engga punya, malah
bilang sudah punya tunangan. Astaghfirullah..." gumamku sambil menatap langit langit
kontrakan.
Aku pun melihat paket yang ku pegang dari Inayah. "Kira kira ini isinya apa ya?"
Ucapku dengan penasaran. Aku pun mengechat Inayah untuk menanyakan tentang
paket yang ia kirim untukku.
Inayah bilang kepadaku bahwa paket itu bukan darinya tetapi dari seorang laki laki,
Inayah hanya membungkus dan mengirim paket itu dengan mengatas namakan
171

