Page 177 - CERPEN 9A - Copy
P. 177
Aku melihat jam, ternyata sudah menunjukkan pukul 10.12, aku mengira itu
pasti mereka. Setelah kubuka, ternyata benar itu adalah Rania—adikku, dengan mama
dan papaku yang sedang tersenyum bahagia berdiri di belakangnya.
"Wa'alaikumsalam.. yey akhirnya kalian datang" ucapku dengan senang. Aku pun
mencium tangan kedua orang tua ku. Dan adikku mencium tanganku.
"Mbak, aku bawain donat yang banyak nih" ucap Rania adikku.
"Wahh, enak tuhh.. eh ayo masuk dulu" ucapku.
"Betah engga tinggal disini?" Tanya mama kepadaku.
" Iya ma...orang orang disini ramah ramah." Jawabku.
"Oh iya, ma.. pa.. aku mau ngomong sesuatu " ucapku kepada mereka.
"Ngomong apaan tuh ??" Tanya Rania penasaran.
"Ah, yang masih kecil mending diem aja deh...atau engga kamu makan donat atau
main di depan" ucapku menyuruh nya pergi.
"Oke, aku mau jajan di warung depan aja" ucap Rania. Rania pun pergi membeli jajan.
Dan hanya aku, mama, dan papa di dalam kamar kontrakan itu.
"Mau ngomong apa? Tumben banget" ucap papaku.
"Jadi kemarin aku habis nerima paket dari Azer, dan isinya adalah cincin yang saat ini
kupakai." Ucapku sambil menunjukkan cincin di jari ku.
"Waduh, Azer yang belikan ini ? Kok bagus cincinnya" Ucap papa dengan kagum.
"Azer yang waktu itu sering ke rumah?" Tanya mama kepadaku.
"Iya, mah..." jawabku.
"Kenapa dia ngasih ini ke kamu?" Tanya mama kepadaku.
"Azer bilang ke aku, katanya dia mau ngelamar setelah aku lulus kuliah hehe" jawabku
dengan jantung yang berdebar debar karena takut akan jawaban mereka.
"Hah? Ngelamar???" Ucap mama dan papaku terkejut mendengar ucapan ku.
"I-iya" jawabku dengan gugup.
"Kamu Umur 24 mau nikah? " Tanya mama kepadaku.
177

