Page 32 - Dalam Bingkai Kesabaran
P. 32
ke soal nomor 2 dan 3. Kedua soal itu bisa dikerjakan teman-
teman dengan baik. Tibalah pada soal ke 4. Soal dengan
gambar jurusan tiga angka. Pertama yang dipanggil Yusuf..
Aku berharap dia bisa mengerjakannya, karena tadi pagi dia
tidak meributkan PR matematika. Yusuf mengerjakan dengan
tenang. Begitu selesai pak sulaiman bilang ‘salah.’ Kontes
pertama diawali oleh Yusuf. Peserta berikutnya adalah Neti.
Temanku ini kelihatannya sudah pasrah. Tapi dia tetap
berusaha mengerjakan. Di saat dia meletakkan busur, pak
Sulaiman menyalahkan. Konsekuensinya, Neti menemani
Yusuf kontes di depan kelas.
Keringat dingin sudah mulai menjalariku. Kali ini aku pasti
ikutan kontes, pikirku. Semoga Allah memberi petunjuk, aku
berdo’a dalam hati. Berikutnya pak Sulaiman memanggil
Bekhan. Anak laki-laki yang paling pintar di kelasku. Kali ini
aku tetap berharap dia bisa mengerjakan, agar aku juga bisa
selamat dari kontes di depan. Sebenarnya tidak capek kalau
berdiri di depan, hanya ada perasaan malu. Itu yang
membuat kami tidak ingin kena hukuman kontes.
Aku amati cara Bekhan mengerjakan. Suasana kelas jadi
makin hening dan sedikit mencekam. Aku semakin tambah
deg-deg an. Setelah Bechan selesai mengerjakan, pak
Sulaiman tersenyum tapi, tidak diduga beliau bilang,”Silakan
bergabung di depan.” Giliran namakupun dipanggil. Aku maju
dengan pikiran kosong. Aku berhenti sejenak di papan tulis.
Kuingat tadi cara teman-teman membuat gambar dengan
penggaris busur. Semua cara telah dilakukan dan salah.
Akhirnya, asal saja kuletakkan posisi busur dengan garis
sudut nol derajat di arah utara. Aku tandai angka seratus
26 | Harini