Page 36 - Dalam Bingkai Kesabaran
P. 36
“Kerjaan baru sepi. Beberapa bis ada yang rusak dan
tidak bisa diperbaiki. Jadi terpaksa beberapa bis dijual.” Suara
bapak pelan terdengar di telingaku.
“Lha terus bapak mau cari kerja apa?” Tanya ibu. Aku jadi
semakin ingin mendengar pembicaraan bapak dan ibu.
“ Anaknya Sehati punya peternakan ayam. Mungkin aku
akan ikut bekerja di sana. Jika sewaktu-waktu aku dibutuhkan
untuk memperbaiki bis, Sehati akan mudah mencariku.” Aku
agak lega mendengar kata-kata bapak. Berarti bapak tidak
diPHK. Walaupun nanti mungkin penghasilan bapak
berkurang, tapi setidaknya aku merasa lega karena bapak
tidak jadi penganggguran.
“Usaha warung bagaimana?” suara bapak terdengar lagi.
“Cukuplah kalau untuk biaya makan sehari-hari.” Jawab
ibu.
“Bagaiman kalau kita cari pinjaman untuk menambah
modal warung?”
“Kemana kita mau cari pinjaman?” Ibu malah balik
bertanya.
“Kamu yang lebih tahu, kemana harus nyari pinjaman.
Yang penting jangan kepada rentenir,” sahut bapak.
Setelah percakapan itu, aku melihat ada perubahan di
warung ibu. Agaknya ibu memang benar cari pinjaman untuk
tambah modal warung. Warung kami lebih lengkap. Ibu
menambah dagangannya dengan bumbu dapur dan sedikit
sayur-mayur. Mungkin ibu berpendapat, jika nanti ada
lebihnya sekalian kami bisa memasaknya.
***
30 | Harini