Page 83 - MENJADI GURU SEJAHTERA TANPA UTANG-
P. 83

Kalau  Allah  sudah  mengambil  nyawa  kita,  tak  akan  pernah
             ada  harganya.  Orang  lainpun  tak  akan  ada  yang  mau
             mendekati  kita  lagi.  Banyak  sekali  pelajaran  yang  aku
             dapatkan  dari  kematian  Mbah  Sumi.  Aku  sadar  kehidupan
             dunia itu tidak ada apa‐apanya.
                 Tak  perlu  kita  sombong,  tak  perlu  kita  pelit  karena  tak
             akan ada yang akan kita bawa sampai ke liang kubur selain
             selembar  kain  kafan.  Selain  itu  aku  sekarang  juga  harus
             berhati‐hati dalam berbicara, karena setiap kata yang keluar
             itu  adalah  doa.  Sama‐sama  mengeluarkan  tenaga  untuk
             berbicara,lebih baik kita mengeluarkan kata‐kata yang baik.
                 Setelah  pemakaman  Mbah  Sumi,  aku  menyuruh  Mak
             Nanik, asisten rumah tanggaku, untuk mencari tahu, apakah
             Mbah  Sumi  masih  punya  utang  ataupun  janji  sama  warga
             kampung. Kalau ada semua akan aku selesaikan. Aku kasihan
             sama  Mbah  Sumi  kalau  di  sana  nanti  masih  harus
             menanggung  utang.  Ternyata  dia  tidak  punya  utang,  hanya

             ada  satu  kesanggupan  yaitu  arisan  di  PKK  RT,  itupun  tidak
             banyak.
                 Pada  saat  pertemuan,  hal  itu  aku  sampaikan  di  forum,
             aku  tegaskan  sekali  lagi  apakah  mungkin  masih  ada
             kesanggupan  dari  Mbah  Sumi  yang  belum  tertunaikan,
             ternyata  juga  tidak  ada.  Atas  kesepakatan  seluruh  warga,
             utang Mbah Sumi untuk arisan diikhlaskan. Mudah‐mudahan
             semua  bisa  membuat  perjalanan  Mbah  Sumi  lancar  menuju
             akhirat dan mendapatkan ampunan dari Allah.








                      Menjadi Guru Sejahtera Tanpa Utang (Bukan Mimpi) | 75
   78   79   80   81   82   83   84   85   86   87   88