Page 400 - BUKU KATA FADLI CATATAN KRITIS DARI SENAYAN
P. 400

Dr. Fadli Zon, M.Sc





                                                (7)

                                     TUDUHAN KORUPSI
                        PADA SUMITRO ADALAH PROPAGANDA
                                   GOLONGAN KOMUNIS





                           ASUS “hilangnya” Ketua DPR Setya Novanto pada Rabu malam
                           lalu, 15 November 2017, secara gegabah telah dimanfaatkan dua
                           orang penulis untuk mengarang artikel yang penuh insinuasi
                           terhadap diri Sumitro Djojohadikusumo.  Dua penulis itu
               Kadalah Hendri F. Isnaeni, yang menulis artikel “Dugaan Korupsi
                 Menteri Sumitro” di situs www.historia.id; serta Petrik Matanasi, reporter
                 media daring  Tirto, yang menulis artikel “Sumitro Djojohadikusumo
                 Pernah ‘Menghilang’ karena Dituduh Korupsi”. Dua artikel itu terbit secara
                 bersamaan pada Jumat, 17 November 2017.

                      Framing dua artikel itu kurang lebih sama: hilangnya tersangka kasus
                 korupsi bukanlah baru kali pertama terjadi, tapi pernah terjadi sejak lama, di
                 mana Sumitro Djojohadikusumo adalah salah satunya. Dua artikel itu bagi
                 saya sama sekali tak memuat perbandingan yang tepat, sehingga bersifat
                 sangat tendensius. Ini adalah reproduksi dari propaganda PKI akhir tahun
                 1950-an yang disebarkan secara gegabah karena Sumitro sebagai tokoh PSI
                 dianggap antikomunis. Apalagi, Sumitro juga dekat dengan tokoh-tokoh
                 Partai Masyumi, yang juga sangat anti-PKI. Artikel ngawur tadi sepertinya
                 diproduksi untuk mendegradasi rekam jejak Sumitro, karena ia kebetulan
                 adalah ayah Prabowo Subianto, tokoh yang kini menjadi harapan rakyat
                 Indonesia dalam Pemilihan Presiden 2019 nanti.
                      Ada dua alasan mengapa artikel-artikel itu bermasalah dan ngawur.
                      Pertama, menyandingkan hilangnya SN yang berstatus sebagai
                 tersangka  dengan menghilangnya Sumitro yang tak  pernah mendapat
                 status hukum apapun, kecuali label buruk—itupun hanya diproduksi
                 oleh golongan komunis, jelas tak sepadan. Itu sama sekali bukanlah
                 pembandingan.




                420 KATA FADLI
   395   396   397   398   399   400   401   402   403   404   405