Page 317 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 317

Dinda Keumala: Permasalahan dalam Pendaftaran Peralihan Hak Atas Tanah ...     309


                1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang
                Pendaftaran Tanah
                Dalam  prakteknya,  banyak  terjadi  Surat  Keterangan  Ahli  Waris  bagi  Warga  Negara
                Indonesia penduduk asli yang dibuat oleh para ahli waris dengan disaksikan oleh 2 (dua)

                orang saksi akan tetapi baik Kepala Desa/Lurah dan Camat dalam Surat Keterangan Ahli
                Waris tersebut tidak menerangkan bahwa fungsi mereka menandatangani surat tersebut
                untuk  menguatkan  bahwa  isi  surat  Keterangan  Ahli  Waris  itu  adalah  benar.  Kepala

                desa/Lurah  dan  Camat hanya  menerangkan  bahwa  para  ahli  waris  mempunyai  alamat
                pada kelurahan dan kecamatan wilayah mereka. Hal ini tentu saja tidak sesuai dengan
                ketentuan yang diatur dalam Pasal 111 ayat (1) huruf c angka 3 PMNA 3 Tahun 1997 tentang
                Pendaftaran Tanah. Disini terlihat bahwa Kepala Desa/Lurah dan Camat tidak mau ikut

                bertanggungjawab terhadap kebenaran dari isi surat keterangan ahli waris tersebut.
                Terlebih  lagi  sebelum  membuat  Surat  Keterangan  Ahli  Waris  bagi  Warga  Negara
                Indonesia penduduk asli, tidak pernah dilakukan pengecekan wasiat atas nama pewaris.
                Berbeda  halnya  dengan  Surat  Keterangan  Ahli  waris  untuk  Warga  Negara  Indonesia

                keturunan  Tionghoa  dan  Surat  Keterangan  Ahli  Waris  bagi  Warga  Negara  Indonesia
                Keturunan Timur Asing lainnya, dimana Notaris dan Balai Harta Peninggalan sebelum
                membuat  Surat  Keterangan  Ahli  Waris  mengajukan  permohonan  pengecekan  wasiat

                terlebih dahulu kepada Kepala Seksi Daftar Pusat Wasiat Direktorat Jenderal Administrasi
                Hukum Umum (AHU) Kementerian Hukum dan HAM RI, sehingga bisa diketahui apakah
                semasa hidupnya si pewaris pernah membuat surat wasiat. Adanya pengecekan wasiat ini
                menjadi penting karena yang dinamakan ahli waris selain yang mempunyai hubungan

                darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris juga adalah orang yang ditunjuk atau
                diangkat sebagai ahli waris dalam surat wasiat yang pernah dibuat oleh pewaris. Surat
                Keterangan Ahli Waris bagi Warga Negara Indonesia penduduk asli mengandung potensi
                terjadinya  sengketa  pertanahan  jika  ternyata  dikemudian  hari  terbukti  bahwa  pewaris

                semasa hidupnya pernah membuat surat wasiat dan menunjuk atau mengangkat ahli waris
                yang lain selain ahli waris yang mempunyai hubungan perkawinan dan hubungan darah
                dengan pewaris.

                Selain  itu,  Surat  Keterangan  Ahli  Waris  bagi  Warga  Negara  Indonesia  penduduk  asli
                biasanya dalam praktek hanya mencantumkan suami atau isteri yang hidup terlama dan
                anak-anak  yang  dilahirkan  dari  perkawinan  saja  sebagai  para  ahli  waris  dari  pewaris,
                sedangkan jika dilihat dari ketentuan Pasal 174 ayat (2) Kompilasi Hukum Islam (KHI),

                orangtua pewaris juga berhak mewaris bersama-sama dengan suami atau istri yang hidup
                terlama dan anak-anak pewaris. Jika orangtua pewaris sudah meninggal dunia terlebih
                dahulu dan pewaris tidak mempunyai anak (mati kalalah), maka saudara-saudara pewaris

                berhak mewaris sesuai dengan ketentuan Pasal 181 dan 182 Kompilasi Hukum Islam (KHI).
   312   313   314   315   316   317   318   319   320   321   322