Page 322 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 322

314    Prosiding Seminar: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya



                   Bebas (SKB) Pajak Penghasilan (PPh) terhadap pengalihan hak atas tanah dan/atau
                   bangunan Pewaris yang diajukan para ahli waris tersebut tidak memenuhi persyaratan
                   untuk  dapat  diajukan  ke  kantor  pelayanan  pajak.  Adanya  Surat  Edaran  Direktur
                   Jenderal Pajak Nomor : 20/PJ/2015 tentang Pemberian Surat Keterangan Bebas (SKB)

                   Pajak Penghasilan (PPh) atas pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan karena
                   warisan tersebut menimbulkan masalah tersendiri, karena sebenarnya Pewaris sudah
                   meninggal dunia dan tidak mendapatkan penghasilan dari perolehan hak atas tanah

                   dan/atau bangunan tersebut, jadi tidaklah tepat jika para ahli waris juga menanggung
                   pembayaran Pajak Penghasilan (PPh) si Pewaris karena menurut ketentuan Pasal 4 ayat
                   (1)  Undang-undang  Nomor  7  Tahun  1983  tentang  Pajak  Penghasilan  yang  telah
                   beberapa  kali  diubah  terakhir  dengan  Undang-undang  Nomor  36  Tahun  2008  yang

                   menjadi  objek  Pajak  Penghasilan  adalah  penghasilan  yaitu  setiap  tambahan
                   kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari
                   Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk
                   menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan dengan nama dan dalam bentuk

                   apapun juga. Terlebih lagi dalam Pasal 4 ayat (3) huruf b Undang-undang Nomor 7
                   Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan yang telah beberapa kali diubah terakhir dengan
                   Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 sudah jelas dinyatakan bahwa warisan adalah

                   obyek  yang  dikecualikan  dari  pembayaran  Pajak  Penghasilan  (PPh).  Disamping  itu,
                   para ahli waris juga sudah dikenakan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
                   (BPHTB)  waris.  Sehingga  terhadap  harta  warisan  si  Pewaris  para  ahli  waris  harus
                   membayar 2x pajak berturut-turut yaitu Pajak Penghasilan (PPh) dan Bea Perolehan

                   Hak  atas  Tanah  dan  Bangunan  (BPHTB).  Jika  Pewaris  meninggalkan  tidak  hanya  1
                   bidang tanah dan/atau bangunan maka sudah pasti hal ini menambah beban para ahli
                   warisnya mengingat dasar pengenaan pajak-pajak tersebut dihitung berdasarkan Nilai
                   Jual  Obyek  Pajak  (NJOP)  bidang  tanah  dan/atau  bangunan  yang  setiap  tahun  pasti

                   mengalami kenaikan.
                   Apabila  balik  nama  sertipikat  dilakukan  dari  nama  pewaris  kepada  nama  para  ahli
                   waris, maka ahli waris harus membayar baik Pajak Penghasilan (Pph) jika tidak bisa

                   mengajukan Surat Keterangan Bebas Pajak Penghasilan (SKB Pph) dan juga Bea pero-
                   lehan Hak atas Tanah dan Bangunan tersebut. Kemudian setelah itu jika diantara para
                   ahli waris ingin melakukan balik nama sertipikat lagi ke atas nama salah satu ahli waris,
                   maka terhadap pendaftaran peralihan hak atas tanah tersebut dikenakan pembayaran

                   Pajak Penghasilan dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan kembali sebelum
                   Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) membuat Akta Pembagian Hak Bersama (APHB)
                   atas  obyek  warisan  tersebut.  Jika  ahli  waris  ada  2  orang,  maka  perhitungan  untuk

                   pembayaran Pajak Penghasilan (Pph) adalah sebesar  ½ x Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP)
                   x 2.5%. Sedangkan untuk pembayaran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
   317   318   319   320   321   322   323   324   325   326   327