Page 318 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 318

310    Prosiding Seminar: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya



             c.  Berlakunya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor : 46/PUU-VIII/2010 Tanggal 17 Februari
                2012
                Pada tanggal 17 Februari 2012 telah dikeluarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor:
                46/PUU-VIII/2010 yang merupakan putusan tentang pengujian Undang-undang Nomor 1

                Tahun 1974 tentang Perkawinan. Isi Putusan Mahkamah Konstitusi tersebut meliputi 2
                hal, yaitu:
                1)  Penafsiran atas ketentuan Pasal 2 ayat (2) UU Perkawinan

                   Isi  dari  Pasal  2  ayat  (2)  UU  Perkawinan  adalah  bahwa  tiap-tiap  perkawinan  dicatat
                   menurut perundang-undangan yang berlaku. Sehingga sebenarnya untuk melihat suatu
                   perkawinan sah atau tidak bukan dari proses pencatatannya, tapi dilihat memenuhi
                   persyaratan yang sudah ditentukan oleh agama dan kepercayaannya masing-masing

                   sesuai ketentuan Pasal 2 ayat (1) UU Perkawinan, sehingga anak yang dilahirkan dari
                   perkawinan  tersebut  adalah  anak  sah.  Pencatatan  perkawinan  bukan  faktor  yang
                   menentukan  sah  atau  tidaknya  perkawinan,  melainkan  hanya  merupakan  tindakan
                   administratif  saja.  Sekiranya  pencatatan  dimaksud  dianggap  sebagai  pembatasan,

                   pencatatan  demikian  menurut  Mahkamah  Konstitusi  tidak  bertentangan  dengan
                   ketentuan konstitusional karena pembatasan ditetapkan dengan Undang-undang dan
                   dilakukan dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghor-

                   matan atas hak dan kebebasan orang lain, dan untuk memenuhi tuntuan yang adil
                   sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum
                   dalam  suatu  masyarakat  yang  demokratis.  Sehingga  Mahkamah  Konstitusi  menilai
                                                                                          7
                   pasal tersebut tidak bertentangan dengan Undang-undang Dasar 1945.
                2) Perubahan ketentuan Pasal 43 ayat (1) UU Perkawinan
                   Isi dari ketentuan Pasal 43 ayat (1) UU Perkawinan adalah Anak yang dilahirkan di luar
                   perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya
                   saja.  Dengan  adanya  perubahan  ketentuan  Pasal  43  ayat  (1)  UU  Perkawinan  oleh

                   Putusan Mahkamah Konstitusi, maka dapat diartikan bahwa seorang Anak Luar Kawin
                   bisa mempunyai hubungan perdata dengan ayah dan keluarga ayahnya baik dengan
                   cara pengakuan seperti yang tersebut dalam Pasal 280 KUHPerdata, yaitu hubungan

                   perdata  timbul  ketika  seorang  ayah  mengakui  Anak  Luar  Kawinnya  dan  hubungan
                   perdata  antara  Anak  Luar  Kawin  dan  ayahnya  bisa  juga  timbul  sepanjang  dapat
                   dibuktikan  berdasarkan  ilmu  pengetahuan  dan  teknologi  dan/atau  alat  bukti  lain
                   menurut hukum mempunyai hubungan darah dengan keluarga ayahnya.

                   Adanya putusan Mahkamah Konstitusi terkait dengan penafsiran Pasal 2 ayat (1) UU
                   Perkawinan  membawa  implikasi  pada  kedudukan  anak  hasil  perkawinan  siri,  yaitu



                7  Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor : 46/PUU-VIII/2010 tanggal 17 Februari 2012 Perihal Pengujian
             Undang-undang  Nomor  1  Tahun  1974  tentang  Perkawinan  terhadap  Undang-undang  Dasar  Negara
             Republik Indonesia Tahun 1945, Pendapat Mahkamah Konstitusi dalam Pokok Permohonan.
   313   314   315   316   317   318   319   320   321   322   323