Page 320 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 320

312    Prosiding Seminar: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya



                   1983  tentang  Pajak  Penghasilan  yang  telah  beberapa  kali  diubah  terakhir  dengan
                   Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 sudah jelas sekali diatur bahwa harta hibah
                   yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat dan harta
                   warisan bukan merupakan objek Pajak Penghasilan. Hal ini juga ditegaskan kembali

                   dalam Penjelasan Pasal 6 huruf d Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2016 tentang
                   Pajak  Penghasilan  atas  Penghasilan  dari  Pengalihan  Hak  atas  Tanah  dan/atau
                   Bangunan, dan Perjanjian Pengikatan Jual Beli atas tanah dan/atau bangunan beserta

                   perubahannya, bahwa dalam hal waris, pihak yang melakukan pengalihan (Pewaris)
                   sudah  meninggal  dunia,  sehingga  dikecualikan  dari  pengenaan  Pajak  Penghasilan
                   berdasarkan  Peraturan  Pemerintah  ini.  Pengecualian  tersebut  diberikan  karena
                   kewajiban  subjektif  dari  Pewaris  sudah  berakhir  sejak  si  Pewaris  meninggal  dunia.

                   Penerima  warisan,  penerima  hibah  wasiat  dan  penerima  hibah  yang  mempunyai
                   hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas atau satu
                   derajat ke bawah dengan si pemberi hibah membayar Bea Perolehan Hak atas Tanah
                   dan Bangunan (BPHTB) karena mereka adalah orang yang menerima perolehan Hak

                   atas Tanah dan/atau Bangunan. Besaran  tarif pajak untuk pembayaran Bea Perolehan
                   Hak Atas Tanah (BPHTB) ditetapkan sebesar 5% dari Nilai Perolehan Objek Pajak Kena
                   Pajak (Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) – Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak

                   (NPOPTKP)). Adapun Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak ditetapkan secara
                   regional  minimal  Rp.  60.000.000,-  (enampuluh  juta  rupiah)  tergantung  kebijakan
                   masing-masing  daerah,  kecuali  dalam  hal  perolehan  hak  karena  waris,  atau  hibah
                   wasiat  yang  diterima  orang  pribadi  yang  masih  dalam  hubungan  keluarga  sedarah

                   dalam garis keturunan lurus satu derajat keatas atau satu derajat ke bawah dengan
                   pemberi hibah wasiat termasuk suami/istri, Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena
                   Pajak  ditetapkan  secara  regional  paling  banyak  Rp.  300.000.000,-  (tigaratus    juta
                           11
                   rupiah).
                   Dalam prakteknya, meskipun objek warisan termasuk dalam objek yang dikecualikan
                   dari pengenaan Pajak Penghasilan (PPh), namun para ahli waris dari si pewaris harus
                   mengajukan Surat Keterangan Bebas Pajak (SKB) atas pengenaan Pajak Penghasilan

                   (PPh)  si  Pewaris  pada Kantor  Pelayanan  Pajak  (KPP)  tempat Pewaris terdaftar  atau
                   bertempat tinggal untuk keperluan balik nama sertipikat dari nama Pewaris menjadi
                   nama para ahli waris.  Dalam Pasal 5 huruf d  Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun
                   1994 tentang Pembayaran Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Pengalihan Hak atas

                   Tanah dan/atau Bangunan  memang telah menyebutkan bahwa pengalihan hak atas
                   tanah  dan/atau  bangunan  sehubungan  dengan  warisan  dikecualikan  dari  kewajiban
                   pembayaran atau pemungutan Pajak Penghasilan (PPh), namun tidak menyebutkan



                11  Undang-undang Nomor 20 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 21 Tahun 1997
             tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan, Pasal 7 ayat (1).
   315   316   317   318   319   320   321   322   323   324   325