Page 397 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 397

Titin Rohayati, Suryanto, Gunung Radjiman: Permasalahan Pengadaan Tanah pada ...     389


             diatas  tanah  SG/PAG  terdapat  penggarapan/pemanfaatan  lahan  oleh  masyarakat,  baik
             dengan Hak Anggaduh maupun tidak. Apakah dapat dibenarkan jika diserahkan sepenuhnya
             kepada pihak Kasultanan/Pakulaman? bagaimana proses verifikasi pemberian ganti kerugian
             tersebut kepada masyarakat penggarap? Sementara  status tanah tersebut adalah tanah hak

             milik, bukan termasuk dalam kategori tanah ulayat maupun tanah adat, sehingga tidak tun-
             duk pada aturan terkait tanah ulayat mapun tanah adat.
                  Sementara  itu,  Permasalahan  tentang  tanah  tutupan  di  Kabupaten  Bantul  muncul

             manakala  penguasaan  tanah  oleh  warga  masyarakat  dilakukan  berdasarkan  hak  turun-
             temurun, meskipun tidak dilakukan atas dasar kepemilikan alas hak secara legal formal. Hal
             tersebut sebenarnya tidak bertentangan dengan ketentuan Pasal 20 Jo. Pasal 6 UUPA yang
             telah mengatur hak milik atas tanah yaitu hak turun-temurun, terkuat dan terpenuh yang

             dapat dipunyai orang atas tanah. Istilah turun-temurun inilah yang dijadikan patokan oleh
             beberapa masyarakat pedesaan tanpa memperhatikan lebih jauh arti penting kepastian hak
             atas tanah berupa sertipikat. Namun, dalam implementasinya, pelaksana pengadaan tanah
             tidak  melihat  pada  peraturan  tersebut  dan  lebih  berpegang  pada  peraturan  formal  yang

             menurut pelaksana lebih menjamin kepastian hukum. Adanya ketidaktertiban dalam pera-
             turan administrasi pertanahan berakibat pada konflik kepemilikan tanah, sehingga penen-
             tuan  pihak  yang  berhak  menjadi  berlarut-larut  sehingga  hadirnya  peraturan  (birokrasi)

             dalam praktiknya justru banyak menimbulkan inefisiensi. Menjadi sebuah paradoks, seharus-
             nya dengan adanya peraturan sebuah kegiatan menjadi efisien tapi ternyata setelah diterap-
             kan menjadi kendala karena adanya pertentangan antar peraturan terkait pertanahan. Hal
             tersebut seperti yang dijelaskan dalam teori birokrasi Max Webber sebagai iron cage, dimana

             hadirnya birokrasi justru menjadikan ketidakefektifan suatu komunitas (negara). Menurut
             Max Weber, suatu komunitas, yang dalam pembahasan penelitian ini termasuk negara akan
             menjadi  sebuah  komunitas  yang  rasional  bila ada  sebuah  birokrasi  yang  dapat  mengatur
             individu-individu yang ada dalam komunitas tersebut. Max Weber berfikir tentang konsep

             birokrasi (Bereaucracy) yaitu sebuah organisasi yang ideal, dengan tujuan yang rasional, serta
             sangat efisien yang didasarkan atas prinsip-prinsip yang masuk akal, teratur serta wewenang
             formal. Pada dasarnya, tipe ideal birokrasi yang diusung oleh Weber bertujuan ingin meng-

             hasilkan efisiensi dalam pengaturan negara. (Lawang, 1986). Namun demikian, pada perkem-
             bangannya Max Weber mengkritik realitas atas ketidakefisienan yang terjadi dalam tubuh
             birokrasi sendiri, seperti layaknya sangkar besi (iron cage) yang justru membuat suatu insti-
             tusi atau komunitas menjadi irasional. Sebagaimana diketahui dari hasil wawancara bahwa

             terdapat sistem hukum formal pertanahan di Indonesia berupa peraturan-peraturan terkait
             administrasi  dan  pendaftaran  tanah,  dimana  dalam  peraturan  tersebut  belum  mengako-
             modasi sistem administrasi pertanahan tradisional yang masih berlaku di Indonesia. Dalam

             peraturan pengadaan tanah disebutkan bahwa pihak yang berhak menerima ganti kerugian
             harus memiliki bukti atas kepemilikan maupun penguasaan atas tanah secara sah. Di sisi lain
   392   393   394   395   396   397   398   399   400   401   402