Page 401 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 401

Titin Rohayati, Suryanto, Gunung Radjiman: Permasalahan Pengadaan Tanah pada ...     393


             sosialisasi, konsultasi publik maupun musyawarah penetapan bentuk ganti kerugian. Asas
             kesetaraan yang merupakan prinsip dari musyawarahpun tidak tercantum dalam asas-asas
             pengadaan tanah pada pasal 2 UU Nomor 2 tahun 2012. Perpres nomor 71 Tahun 2012 sebagai
             peraturan  pelaksaanaan  UU  nomor  2  tahun  2012  juga  hanya  mengatur  mengenai  jangka

             waktu dan pihak yang  terlibat dalam proses musyawarah. Belum adanya petunjuk teknis
             pelaksanaan musyawarah baik dalam proses sosialisasi, konsultasi publik maupun musyawa-
             rah penetapan bentuk ganti kerugian menyebabkan Panitia Pengadaan Tanah menggunakan

             cara-cara  paling  mudah  demi  efisiensi  waktu  dalam  pelaksanaan  musyawarah  meskipun
             terkadang  hal  tersebut  tidak  efektif  dalam  mempertemukan  kebutuhan  dan  kepentingan
             antar pihak.


             C.  Kompensasi Belum Memberikan Jaminan Livelihood Bagi Warga Terdampak
                 Pengadaan Tanah
                  Permasalahan ketiga terkait kompensasi merupakan permasalahan paling krusial dalam
             proses  pengadaan  tanah.  Selama  ini,  kompensasi  dinilai  belum  memberikan  jaminan

             livelihood  bagi  pemilik  tanah.  Regulasi  yang  ada  pun  belum  sepenuhnya  berpihak  pada
             kepentigan  kesejahteraan  rakyat.  Komitmen  Pemerintah  untuk  menjadikan  tanah  bagi
             sebesar-besar  kemakmuran  rakyat  masih  dipertayakan  melalui  regulasi  pengadaan  tanah.

             Belum adanya aturan tersendiri yang dapat digunakan sebagai acuan bagi penilaian ganti
             kerugian sama halnya menyerahkan semua bentuk penafsiran “layak dan adil” dalam peni-
             laian  ganti  kerugian  kepada  Tim  Penilai  yang  berakibat  pada  perbedaan  metode  dan
             subyektifitas dalam penilaian yang dilakukan oleh Tim Penilai. Seberapa jauh ruang lingkup

             dari kerugian lain yang dapat dinilai  dan seberapa besar ganti rugi yang diberikan harus
             diatur dalam standar yang jelas sehingga Lembaga/Tim Penilai Harga Tanah dapat memiliki
             referensi yang sama dalam melakukan penilaian. Standar tersebut diharapkan tidak hanya
             berfungsi  sebagai  refererensi  bagi  lembaga/tim  penilai  harga  tanah  dalam  melaksanakan

             tugasnya secara independen, tetapi juga sebagai alat kontrol yang transparan bagi masyarakat
             sehingga keresahan yang sebagaian diakibatkan oleh kebutaan tentang proses dan besarnya
             ganti rugi dapat teredusir.

                  Tidak adanya mekanisme penanganan warga terdampak sebagai bagian dari mekanisme
             kontrol atas pelaksanaan pengadaan tanah, pengutamaan ganti kerugian dalam bentuk uang
             maupun bentuk lain yang tidak diikuti dengan program pemulihan kondisi sosial ekonomi
             masyarakat terdampak mengindikasikan bahwa Pemerintah menyerahkan semua tanggung

             jawab pemulihan kehidupan pasca pengadaan tanah kepada pemilik tanah. Bagaimana pemi-
             lik tanah memanfaatkan uang ganti ruginya, apakah mereka mampu dan dapat memperoleh
             tanah pengganti? Apakah mereka dapat mendirikan rumah kembali? Apakah pekerjaan yang

             hilang dapat tergantikan? Apakah lahan pertanian yang hilang dapat diperoleh di lokasi yang
             lain?  Hal  tersebut  belum  menjadi  prioritas  dalam  penanganan  permasalahan  pengadaan
   396   397   398   399   400   401   402   403   404   405   406