Page 399 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 399

Titin Rohayati, Suryanto, Gunung Radjiman: Permasalahan Pengadaan Tanah pada ...     391


































             Gambar 3.  Kategorisasi “Informasi dan Komunikasi” dalam Permasalahan Pengadaan Tanah
                                                (Sumber: Peneliti, 2016)


                  Metode musyawarah perorangan antara warga dengan P2T, meskipun secara regulasi
             tidak bertentangan, namun hal tersebut tidak efektif dalam menjembatani kepentingan atara
             pemilik  tanah  dengan  Pemerintah.  Sejalan  dengan  pendapat  yang  dikemukakan  oleh

             Sumarto (2010) bahwa akar permasalahan konflik pertanahan dalam garis besarnya dapat
             ditimbulkan oleh 5 hal, salah satu diantaranya adalah konflik hubungan, yang disebabkan
             karena emosi yang berlebihan, persepsi yang keliru, komunikasi yang buruk/salah, pengu-

             langan  perilaku  yang  negatif.  Dalam  kegiatan  pengadaan  tanah  ini,  metode  komunikasi
             dalam musyawarah yang tidak tepat berakibat pada timbulnya berbagai perbedaan persepsi
             dan prasangka yang berujung pada adanya resistensi dari masyarakat. Lebih lanjut Effendi
             (1993)  menjelaskan  bahwa  prasangka  merupakan  salah  satu  hambatan  berat  bagi  suatu

             kegiatan  komunikasi  karena  orang  yang  mempunyai  prasangka  belum  apa-apa  sudah
             bersikap curiga dan menetang komunikator yang hendak melancarkan komunikasi. Prasang-
             ka inilah yang berkembang di masyarakat, kecurigaan masyarakat bahwa pemerintah kurang

             transparan dan terbuka dalam melakukan proses ganti kerugian tanah, sehingga masyarakat
             merasa tidak adil serta menimbulkan kecemburuan sosial di masyarakat. Beberapa persepsi
             masyarakat yang muncul setelah musyawarah diantaranya adalah:
             a.  Informasi besaran dan waktu pembayaran ganti kerugian serta rencana relokasi/tanah

                 pengganti yang belum bisa diperoleh saat sosialisasi maupun konsultasi publik, meskipun
                 secara regulasi hal tersebut dibenarkan, namun menimbulkan prasangka dari masyarakat
                 tentang adanya ketidakterbukaan informasi;
   394   395   396   397   398   399   400   401   402   403   404