Page 400 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 400

392    Prosiding Seminar: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya



             b.  Penilaian  ganti rugi  didasarkan  pada  hasil  penilaian  dari  Lembaga  Penilai  (Appraisal)
                 yang menilai besarnya ganti rugi dengan mekanisme tersendiri, tanpa penjelasan terlebih
                 dahulu  sehingga  menimbulkan  kecurigaan  bahwa  pemerintah  akan  mempermainkan
                 masyarakat;

             c.  Dengan adanya pengaturan tentang penitipan di pengadilan (konsinyasi), menimbulkan
                 anggapan bahwa masyarakat hanya dihadapkan pada 1 (satu) pilihan, yaitu apabila tidak
                 menerima/keberatan dengan nilai ganti rugi, maka uang ganti rugi akan dititipkan di

                 pengadilan  setempat,  sehingga  beberapa  masyarakat  “terpaksa”  menerima  hasil  pene-
                 tapan musyawarah.
                  Dalam pelaksanaan musyawarah pengadaan tanah yang terjadi di beberapa lokasi pene-
             litian, musyawarah dilakukan secara perseorangan antara satu warga dengan P2T sehingga

             membawa tekanan psikologis tersendiri bagi warga karena hal tersebut sama saja menem-
             patkan warga selaku masyarakat terdampak pengadaan tanah dalam posisi tawar yang lebih
             lemah mengingat sebagian besar warga terdampak merupakan petani dengan latar belakang
             pendidikan formal yang kurang memadai, keterbatasan wawasan dan sulit komunikasi. Posisi

             yang lemah tersebut terlihat dari ketakutan masyarakat mendengar kata “pengadilan” jika
             mereka tidak sepakat mengenai besaran dan bentuk ganti kerugian. Hal tersebutlah yang
             menyebabkan  hasil-hasil  musyawarah  belum  dapat  memenuhi  rasa  keadilan  masyarakat,

             karena meskipun mereka menandatangani hasil kesepakatan musyawarah, namun dilakukan
             secara terpaksa. Metode musyawarah tersebut tidak sejalan dengan pengertian musyawarah
             menurut Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pem-
             bangunan Untuk Kepentingan Umum pada Pasal 1 ayat (10) yang menyebutkan musyawarah

             sebagai  kegiatan  saling  mendengar,  saling  memberi  dan  saling  menerima  pendapat  serta
             keinginan  untuk  mencapai  kesepakatan  mengenai  bentuk  dan  besarnya  ganti  rugi  dan
             masalah lain yang berkaitan dengan kegiatan pengadaan tanah atas dasar kesetaraan dan
             kesukarelaan antar pihak yang mempunyai tanah, bangunan, tanaman dan benda-benda lain

             yang berkaitan dengan tanah dengan pihak yang memerlukan tanah. Dari pengertian musya-
             warah tersebut terlihat bahwa terdapat unsur saling mendengar, saling menerima pendapat
             dan keinginan yang berarti terjadi dialog dua arah serta berprinsip pada kesetaraan, yaitu

             kedudukan yang sederajat antar pihak. Melengkapi pemaknaan yuridis dari musyawarah,
             Mahkamah  Agung  melalui  keputusannya  nomor  2263/PDT/1993  merumuskan  pengertian
             musyawarah sebagai perjumpaan kehendak antara pihak-pihak yang tersangkut tanpa rasa
             takut  dan  paksaan.  Dalam  yurisprudensi  tersebut,  prasyarat  musyawarah  adalah  adanya

             perjumpaan kehendak anta pemegang hak atas tanah dan instansi pemerintah yang mem-
             butuhkan  tanah  dan  adanya  jaminan  bagi  pihak-pihak  yang  terlibat  dalam  musyawarah
             tersebut dari rasa takut, tertekan akibat paksaan, intimidasi, terror apalagi kekerasan.

                  Di sisi lain, regulasi pengadaan tanah untuk pembangunan kepentingan umum belum
             mengatur mengenai metode, asas-asas dan prinsip dalam musyawarah baik dalam proses
   395   396   397   398   399   400   401   402   403   404   405