Page 404 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 404

396    Prosiding Seminar: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya



             memanfaatkan  peluang  adanya  aksessibilitas  guna  membangun  usaha  perekonomiannya.
             Kebijakan  pengadaan  tanah  tersebut  masih  dibarengi  dengan  tidak  disusunnya  RDTR
             kawasan JJLS (Pansela) yang memungkinkan adanya penyediaan lahan bagi kegiatan pemu-
             kiman kembali warga terkena proyek pembebasan lahan masuk dalam RDTR. Kondisi terse-

             but akhirnya memaksa warga terkena proyek pembebasan lahan untuk bersaing dengan para
             pemilik modal jika masih ingin bertahan dan berpenghidupan di sekitar lokasi terbangunnya
             infrastruktur. Yang terjadi kemudian adalah terjadinya kepincangan sosial yang berpangkal

             dari kepincangan ekonomi karena tanah-tanah di sekitar lokasi pembangunan telah dikuasai
             oleh para pemilik modal.
                  Selain  itu,  dalam  kasus  pengadaan  tanah  JJLS,  beberapa  masyarakat  menolak  dan
             mengajukan  keberatan  pada  beberapa  kebijakan  pengadaan  tanah.  Meskipun  secara

             kuantitatif jumlah masyarakat yang menerima lebih banyak dari yang menolak, namun hal
             tersebut mengindikasikan bahwa terdapat masyarakat yang merasakan adanya ketidakadilan
             dalam proses pengadaan tanah tersebut. Sebagai contoh Ibu SMY, warga terdampak penga-
             daan tanah di Desa Nglindur Kecamatan Girisubo Kabupaten Gunungkidul. Setelah penga-

             daan tanah, ia akan kehilangan seluruh tanah, rumah dan sumber penghasilannya karena ia
             menggantungkan hidupnya dengan membuka warung kelontong di rumahnya. Ganti keru-
             gian  yang  ditawarkan  oleh  P2T  berupa  uang  tunai  tanpa  diikuti  dengan  pemberdayaan

             maupun  monitoring  dari  pihak  pemerintah untuk  pemulihan  kondisi  sosial  ekonominya.
             Ketika Ibu SMY akan meminta ganti kerugian dalam bentuk tanah pengganti, dari pihak
             Pemerintah belum menyediakan sehingga belum diketahui keberadaan lokasi tanah peng-
             ganti. Di sisi lain, jika Ibu SMY meminta ganti kerugian dalam bentuk pemukiman kembali,

             dari pihak Pemerintah menyatakan bahwa ia tidak akan mendapatkan uang, lalu bagaimana
             ia dapat bertahan hidup jika hanya punya rumah, tanpa pekerjaan dan tanpa penghasilan,
             sehingga ia merasa bahwa ganti kerugian yang diberikan tidak adil karena Pemerintah tidak
             memikirkan bagaimana kehidupan warga setelah tanahnya dilepaskan untuk pembangunan

             JJLS. Hal tersebut mengindikasikan bahwa makna keadilan belum dirasakan secara riil oleh
             sebagian warga terdampak pengadaan tanah.
                  Kondisi  tersebut  seperti  digambarkan  oleh  John  Rawls  (1921-2002)  dalam  bukunya  A

             Theory  f  Justice  (1971)  yang  telah  diterjemahkan  oleh  Fauzan  dan  Prasetyo  (2011)  bahwa
             keadilan tidak membiarkan pengorbanan yang dipaksakan pada segelintir orang diperberat
             oleh sebagian besar keuntungan yang dinikmati banyak orang. Hal tersebut mengisyaratkan
             bahwa keadilan menurut John Rawls harus dapat diterima dan dirasakan oleh semua orang

             tanpa kecuali. Kebijakan kompensasi dengan mengutamakan ganti kerugian dalam bentuk
             uang  yang  tidak  diikuti  dengan  monitoring  pasca  pengadaan  tanah,  adanya  pembatasan
             waktu pada setiap tahapan pengadaan tanah serta konsinyasi ganti kerugian  juga mengin-

             dikasikan  bahwa  kebijakan/prosedur  pengadaan  tanah  lebih  mengutamakan  kepastian
             perolehan tanah dengan mengabaikan aspek kesejahteraan warga terdampak, yang artinya,
   399   400   401   402   403   404   405   406   407   408   409