Page 406 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 406

398    Prosiding Seminar: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya



                  Dalam  konsep  keadilannya,  Nuruddin  (1995)  juga  mengemukakan  bahwa  konsep
             keadilan dalam Al Quran membawa implikasi terhadap tanggungjawab moral. Tanggung-
             jawab  moral  Negara  dalam  kegiatan  pengadaan  tanah  adalah  pemulihan  kondisi  sosial
             ekonomi guna pencapaian kesejahteraan warga terdampak pengadaan tanah sebagai subyek

             yang  secara  langsung  menjadi  “korban”  pembangunan  infrastruktur  untuk  kepentingan
             umum. Lebih lanjut Mansyur (1985) menyebutkan bahwa keadilan sosial salah satunya dapat
             diartikan sebagai pengembalian hak-hak yang hilang kepada yang berhak. Mengembalikan

             hak-hak yang hilang kepada yang berhak dalam konteks pengadaan tanah untuk kepentingan
             umum adalah semua haknya, baik bersifat materiil maupun non materiil, yang dapat dinilai
             maupun tidak dapat dinilai, termasuk didalamnya hak atas pekerjaan dan penghidupan, hak
             atas kenyamanan, berkomunitas dan mengembangkan diri. Hal tersebut dapat dicapai jika

             dalam  genti  kerugian  memperhatikan  aspek-aspek  livelihood  dari  masyarakat  yang  kehi-
             langan tanahnya.
                  Warga terdampak pengadaan tanah seharusnya menjadi penerima manfaat pertama atas
             terbangunnya infrastruktur untuk kepentingan umum, karena mereka adalah “korban” yang

             secara langsung merasakan dampak dari kehilangan tanah untuk pembangunan, sehingga
             kepadanya  seharusnya  diberikan  akses  untuk  dapat  menikmati  hasil  dari  pembangunan
             tersebut,  karena  menurut  Soemardjono  (2009),  konsep  kepentingan  umum  selain  harus

             memenuhi peruntukannya juga harus dapat dirasakan kemanfaatannya (socially profitable
             atau for public use atau actual use by the public). Agar warga terdampak dapat merasakan
             kemanfaatan  adanya  pembangunan  infrastruktur,  maka  hal  tersebut  dapat  direalisasikan
             melalui  program  tanah  pengganti  maupun  pemukiman  kembali  bagi  warga  terdampak

             dengan  lokasi  tanah  yang  mendekatkannya  dengan  infrastruktur  yang  telah  terbangun.
             Rencana  tersebut  dapat  disusun  bersamaan  dengan  penyusunan  RDTR  kawasan  tempat
             infrastruktur tersebut terbangun. Namun demikian, kebijakan pengadaan tanah yang ada
             saat  ini  belum  terbangun  secara  komprehensif  dengan  kebijakan  yang  lain,  terutama

             kebijakan  tentang  penataan  ruang.  Kebijakan  pengadaan  tanah  hanya  mengatur  soal
             kepastian perolehan tanah untuk pembangunan. Keterkaitan dengan penataan ruang hanya
             sebatas kesesuaian antara pembangunan infrastruktur yang direncanakan dengan rencana

             tata ruang yang ada dan belum mengakomodir penataan ruang setelah infrastruktur tersebut
             terbangun.

             III. Penutup

                  Regulasi  yang  mengatur  tentang  kegiatan  pengadan  tanah  untuk  pembangunan
             kepentingan umum yang ada saat ini berupa UU No. 2 Tahun 2012 beserta peraturan pelaksa-
             naannya belum dapat menjamin kelancaran proses pembebasan lahan sepanjang kebijakan-

             nya  belum  memenuhi  unsur-unsur  keadilan  dan  kompensasinya  belum  memperhatikan
             jaminan livelihood warga terdampak pengadaan tanah.  Masyarakat terdampak pengadaan
   401   402   403   404   405   406   407   408   409   410   411