Page 410 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 410

402    Prosiding Seminar: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya


             B.  Pembahasan
             1.    Politik Hukum Pengadaan Tanah yang Berkeadilan dan Berkepastian
                  Ajaran  negara berdasarkan atas hukum (de rechts staat dan the rule of law) mengandung
             pengertian bahwa hukum adalah supreme dan kewajiban bagi setiap penyelenggara negara

             atau pemerintah untuk tunduk pada hukum (subject to the law). Tidak ada kekuasaan diatas
                                       4
             hukum (above to the law) .Indonesia adalah negara hukum ditegaskan dalam pasal 1 ayat (3)
             Undang  Undang  Dasar  Negara  Republik  Indonesia  Tahun  1945  (UUD  NRI  1945).  Dalam

             rumusan  ini  tidak  ada  istilah  rechtsstaat  maupun  the  rule  of  law.  Sebelum  amandemen
             rumusan dengan Pasal 1 ayat (3) UUD NRI 1945, terdapat pada bagian Penjelasan UUD 1945,
             yaitu  Indonesia  ialah  negara  yang  berdasar  atas  hukum  (rechtsstaat),  yang  dimaksudkan
             yaitu  negara  Indonesia  berdasar  atas  hukum  (rechtsstaat),  tidak  berdasarkan  kekuasaan

             belaka (machtsstaat).
                  Pendapat  dari  Arief  Hidayat  menyatakan  bahwa  konsep  negara  hukum  yang  dianut
             Indonesia adalah konsep negara hukum Pancasila. Konsep negara hukum Pancasila adalah
             konsep negara hukum khas Indonesia yang berbeda dengan konsep negara hukum Eropa

             Barat (Rechtsstaat) maupun konsep the Rule of Law. Konsep yang dianut oleh negara hukum
             Indonesia sejak zaman kemerdekaan hingga saat ini bukanlah konsep rechtsstaat  dan juga
             bukan  the  rule  of  law,  tetapi  konsep  negara  hukum  baru  yaitu  konsep  negara  hukum

             Pancasila.Konsep negara hukum Pancasila adalah konsep negara hukum khas Indonesia yang
             berbeda dengan konsep negara hukum Eropa Barat (Rechtsstaat) maupun konsep the Rule of
             Law. Konsep yang dianut oleh negara hukum Indonesia sejak zaman kemerdekaan hingga
             saat ini bukanlah konsep rechtsstaat  dan juga bukan the rule of law, tetapi konsep negara

                                                                 5
             hukum baru yaitu konsep negara hukum Pancasila.
                  Moh. Mahfud MD menyampaikan pendapat, untuk mengetahui konsep negara hukum
             yang sebenarnya dianut oleh negara Indonesia adalah dengan melihat pada Pembukaan dan
             Pasal-pasal  dalam  UUD  NRI  Tahun  1945  sebagai  keseluruhan  sumber  politik  hukum

             Indonesia. Penegasan keduanya sebagai sumber politik hukum nasional didasarkan pada dua
                    6
             alasan. Pertama, Pembukaan dan Pasal-pasal dalam UUD NRI Tahun 1945 memuat tujuan,
             dasar, cita hukum, dan norma dasar negara Indonesia yang harus menjadi tujuan dan pijakan

             dari politik hukum Indonesia. Kedua, Pembukaan dan Pasal-pasal dalam UUD NRI Tahun
             1945 mengandung nilai khas yang bersumber dari pandangan dan budaya bangsa Indonesia
                                                                    7
             yang diwariskan oleh nenek moyang bangsa Indonesia.  Nilai-nilai khas inilah yang membe-
             dakan  sistem  hukum  hukum  Indonesia  dari  sistem  hukum  lain  sehingga  muncul  istilah


                4  Bagir Manan, Lembaga Kepresidenan, Jakarta: FH UII Press, 2003, hlm 11.
                5   Arief  Hidayat.  “NEGARA  HUKUM  PANCASILA:    (Suatu  Model  Ideal  Penyelenggaraan  Negara
             Hukum)”  dalam  Prosiding  Kongres  Pancasila  IV:  Strategi  Pelembagaan  Nilai  nilai  Pancasila  dalam
             Menegakkan Konstitusionalitas Indonesia, Yogyakarta 31 Mei-1 Juni 2012. PSP UGM, hlm. 60.
                6  Moh. Mahfud M.D., Membangun Politik Hukum Menegakkan Konstitusi, Jakarta: Rajawali Pers, 2012,
             hlm. 22.
                7 Ibid, hlm. 23.
   405   406   407   408   409   410   411   412   413   414   415