Page 415 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 415

Rofi Wahanisa: Politik Hukum Pengaturan Pengadaan Tanah ...      407


             Umum, pada bagian menimbang secara filosofis telah menyebutkan bahwa pembangunan
             untuk kepentingan umum (yang pelaksanaannya memerlukan tanah) dilaksanakan dalam
             rangka mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera berdasarkan Pancasila dan
             UUD  NRI  1945.  Pengadaan  tanah  dilaksanakan  dengan  mengedepankan  prinsip  kemanu-

             siaan, demokratis, dan adil.
                  Perkembangan  berikutnya,  atas  keberadaan  UU  Pengadaan  Tanah  terdapat  ketidak-
             puasan sebagian anggota masyarakat sebagai subyek yang disasar UU ini. Bentuk ketidak-

             puasan atas keberadaan UU Pengadaan Tanah dilakukan dengan melakukan pengujian UU
             Pengadaan Tanah sampai 3 (tiga) kali kepada Mahkamah Konstitusi yaitu: 1) perkara No.
             50/PUU-X/2012,  2)  perkara  No.  88/PUU-XII/2014,  dan  3)  perkara  No.  42/PUU-XII/2014.
             Namun,  ketiga  permohonan  judicial  review  tersebut  semuanya  ditolak  oleh  mahkamah

             Konstitusi.  Yang  artinya,  UU  Pengadaan  Tanah  UU  No.  2  tahun  2012  secara  formil  dan
             materiil tetap konstitusional atau tidak bertentangan dengan UUD 1945.
                  Perubahan  regulasi  yang  terkait  dengan  pengadaan  tanah  bagi  pembangunan  untuk
             kepentingan umum ini menurut penulis, menyisakan sedikit “ganjalan” terhadap keberla-

             kuan UU No. 20 Tahun 1961 tentang Pencabutan Hak Atas Tanah. Undang-undang dinyata-
             kan sebagai amanat pasal 18 UUPA, yang intinya memberikan kewenangan kepada negara
             demi kepentingan umum untuk melakukan pencabutan hak atas tanah. Namun, keberadaan

             undang-undang  ini  seperti  “zombie”,  ada  akan  tetapi  tidak  dipergunakan.  Saat  keluarnya
             Permendagri No. 1975 tentang tentang Ketentuan-ketentuan Mengenai Tata Cara Pembe-
             basan Tanah, tidak “mengisyaratkan” tidak lagi diberlakukannya UU ini. UU No. 20 tahun
             1961 juga tidak dijadikan dalam dasar mengingatterbitnya Permendagri hanya UUPA No. 5

             tahun  1960  dijadikan  dasar  mengingatnya,  dan  secara  tekhnik  perundang-undangan  pun
             aturan  Permendagri  tidak  dapat  dijadikan  sebagai  dasar  untuk  mencabut/  tidak  diberla-
             kukannya suatu UU.
                  Jika kita melihat dari sejarah terkait pencabutan hak atas tanah, pasca tidak ada pera-

             turan perundangan yang mengatur baik pembebasan tanah atau pencabutan hak atas tanah,
             namun atas dasar Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945 maka, peraturan yang ada dan berlaku
             pada saat itu tetap dapat diberlakukan sepanjang belum dibuat yang baru dan tidak berten-

             tangan dengan ketentuan dalam UUD 1945. Ketentuan sebagai dasar ketentuan pembebasan
             tanah pada masa Pemerintahan Hindia Belanda yang diatur dalam Gouvernements Besluit
             1927 sebagaimana telah di rubah dengan Gouvernements Besluit 1932 dan peraturan penca-
                                                                                                   16
             butan tanah sebagaimana diatur dalam Stb. 1920 nomor 574 dinyatakan tetap berlaku.
                  Pada tahun 1960 dengan lahirnya UUPA tidak diatur secara tegas mengenai pembebasan
             tanah. Sedangkan pencabutan tanah secara tegas diatur dalam UUPA. DalamPasal 18 UUPA



                16  PEMBEBASAN DAN PENCABUTAN HAK ATAS TANAH , Jumat, 16 November 2012
                http://refhie.blogspot.co.id/2012/11/pembebasan-dan-pencabutan-hak-atas  tanah.html?m=1,diunduh
             pada tanggal 5 September 2017, pukul. 11.00 WIB.
   410   411   412   413   414   415   416   417   418   419   420