Page 411 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 411

Rofi Wahanisa: Politik Hukum Pengaturan Pengadaan Tanah ...      403


             negara hukum Pancasila yang, jika dikaitkan dengan literatur tentang kombinasi antara lebih
             dari satu pilihan nilai sosial, disebut sebagai pilihan nilai prismatik yang karenanya dalam
                                                                      8
             konteks hukum dapat disebut sebagai hukum prismatik.
                  Selain  konsep  negara  hukum,  terdapat  juga  konsep  negara  kesejahteraan,  yang

             dimaksudkan  dengan  negara  kesejahteraan  (welfare  state)  juga  disebut  sebagai  negara
                                                                             9
             hukum dalam arti materiil. Konsep negara hukum kesejahteraan , negara selain tunduk pada
             hukum yang berlaku, juga memiliki tugas dan tanggung jawab mewujudkan kesejahteraan

             rakyatnya.  Dengan  demikian  negara  atau  pemerintah  tidak  semata-mata  sebagai  penjaga
             keamanan atau ketertiban masyarakat, tetapi pemikul utama tanggung jawab untuk mewu-
             judkan keadilan sosial, kesejahteraan umum dan sebesar-besarnya kemauan rakyat. Berdasar
             uraian tersebut di atas dapat dikatakan bahwa Indonesia merupakan negara hukum dalam

             arti materiil atau negara kesejahteraan. Hal ini antara lain dapat dilihat dari rumusan Pembu-
             kaan dan Pasal-pasal dalam UUDNRI 1945. Alinea keempat Pembukaan UUD NRI 1945 secara
             eksplisit  menyatakan  “...suatu  Pemerintah  Negara  Indonesia  yang  melindungi  segenap
             bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan

             umum,  mencerdaskan  kehidupan  bangsa,  dan  ikut  melaksanakan  ketertiban  dunia  yang
             berdasarkan kemerdekaan abadi dan keadilan sosial, ...”.
                  Bernard  Arief  Sidharta  menjelaskan  bahwa  berdasarkan  pandangan  hidup  Pancasila,

             maka  negara  Indonesia  adalah  negara  kesejahteraan,  yakni  organisasi  kemasyarakatan
             berbentuk  badan  hukum  publik  yang  dalam  semangat  kebersamaan  berupaya  untuk
             mewujudkan kesejahteraan masyarakat, masyarakat adil dan makmur bagi semua orang oleh
                                                                                                10
             semua orang secara bersama-sama, jadi negara itu adalah organisasi kesejahteraan.  Sehing-
             ga jelas kiranya berdasar beberapa uraian diatas, Indonesia tidak sekedar sebagai negara yang
             menganut  konsep  negara  hukum  namun  juga  negara  dengan  konsep  kesejahteraan.
             Sebagaimana pendapat Arief Hidayat, Mahfud MD dan Bernard Arief Sidharta, konsep negara
             hukum  yang  dianut  negara  Indonesia  adalah  konsep  negara  hukum  yang  ber-Pancasila.

             Penguatan sebagai Indonesia sebagai negara yang ber-konsep kesejahteraan yaitu dengan



                8 Ibid.
                9  Negara hukum kesejahteraan dalam berbagai literatur disebutkan dengan istilah yang berbeda-beda.
             Misalnya,  Lemaire  menyebutnya  bestuurzorg,  yang  artinya  negara  berfungsi  menyelenggarakan
             kesejahteraan umum atau disebut welvaarstaat atau verzogingsstaat. A. M. Donner menyebutnya sociale
             rechtstaat (S.F. Marbun, Peradilan Aadministrasi dan Upaya Administratif di Indonesia, Yogyakarta: UII
             Press, 2003, hlm. 133). Di kepustakaan eropa kontinental “sociale rechtstaat” disebut juga sebagai “sociale-
             democratische rechtstaat”, yang dalam konsep sosiologi dan ilmu politik disebut “verzorgingstaat” (Philipus
             M. Hadjon, Op. Cit., hlm. 74-77). Sementara dalam kepustakaan Indonesia, negara hukum modern lazim
             diterjemahkan menjadi “negara hukum kesejahteraan” atau “negara hukum dalam arti luas” atau “negara
             hukum dalam arti materiil” (Lihat antara lain Bagir Manan, Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut
             UUD  1945,  Jakarta:  Pustaka  Sinar  Harapan,  1994,  hlm.  38).  Satjipto  Rahardjo  menyebut  dengan  istilah
             “negara hukum yang membahagiakan rakyatnya” (Satjipto Rahadjo, Negara Hukum Yang Membahagiakan
             Rakyatnya, Yogyakarta: Genta Press, 2008, hlm. 100-119)
                10 Bernard Arief Sidharta. Ilmu Hukum Indonesia, Upaya Pengembangan Ilmu Hukum Sistematik yang
             Responsif Terhadap Perubahan Msyarakat.Yogyakarta: Gentha Publishing, 2013, hlm. 106.
   406   407   408   409   410   411   412   413   414   415   416