Page 405 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 405

Titin Rohayati, Suryanto, Gunung Radjiman: Permasalahan Pengadaan Tanah pada ...     397


             kebijakan tersebut memihak kepada Pemerintah selaku pihak yang membutuhkan kepastian
             perolehan tanah untuk pembangunan. Unsur kesejahteraan ini diabaikan oleh Pemerintah
             dengan adanya kebijakan-kebijakan “memaksa” bentuk ganti kerugian dalam bentuk uang
             melalui pasal-pasal dalam Perpres nomor 71 Tahun 2012 yang didukung dengan implementasi

             kebijakan penyelenggara pengadaan tanah melalui ketiadaan informasi lokasi tanah peng-
             ganti,  tidak  disusunnya  rencana  relokasi,  serta  belum  adanya  kebijakan  monitoring  dan
             evaluasi warga terdampak pasca pengadaan tanah. Pemerintah hanya berorientasi kepada

             kepastian perolehan tanah dengan mengabaikan unsur-unsur pendukung yang membantu
             pencapaian kesejahteraan bagi warga terdampak pengadaan tanah. Berapapun besarnya nilai
             ganti kerugian dalam bentuk uang, jika tanpa adanya pendampingan, pemberdayaan dalam
             proses pemulihan kembali kondisi sosial ekonomi warga terdampak, belum akan membe-

             rikan jaminan bahwa mereka akan dapat kembali hidup minimal seperti kondisi semula atau
             bahkan lebih baik. Dari temuan di lapangan, beberapa dari mereka tidak mempermasalahkan
             besaran  nilai  ganti  kerugian,  yang  dirisaukan  oleh  warga  adalah  bagaimana  membangun
             kehidupan setelah pengadaan tanah.  Kondisi tersebut tidak sejalan dengan konsep keadilan

             menurut Rawls (1971). Prinsip kedua yang dinyatakan oleh John Rawls dam konsep keadilan-
             nya selain keadilan substantif adalah keadilan sebagai fairness. Rawls mengemukakan bahwa
             kesukarelaan segenap anggota masyarakat untuk menerima dan mematuhi ketentuan-keten-

             tuan sosial yang ada hanya dimungkinkan jika masyarakatnya tertata baik di mana keadilan
             sebagai fairness menjadi dasar bagi prinsip-prinsip pengaturan institusi-institusi yang ada di
             dalamnya. Hanya kesepakatan fair yang mampu mendorong kerja sama sosial dan kesepa-
             katan  yang   fair hanya bisa  dicapai  dengan  adanya  prosedur  yang tidak  memihak.  Hanya

             dengan suatu prosedur yang tidak memihak, prinsip-prinsip keadilan bisa dianggap fair.
                  Memang secara legalitas, tidak ditemukan pelanggaran regulasi pada pelaksanaan penga-
             daan tanah pada pembangunan JJLS, namun dalam implementasi regulasi tersebut banyak
             ditemui hambatan/kendala dan keluhan serta penolakan dari masyarakat. Jika hal tersebut

             dilihat dari perspektif keadilan menurut Hans Kelsen, pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah
             pada pembangunan JJLS di DI. Yogyakarta telah memenuhi unsur keadilan, karena konsep
             keadilan Hans Kelsen hanya dimaknai sebagai legalitas. Menurut legalitas, pernyataan bahwa

             tindakan individu adalah adil atau tidak adil berarti legal atau ilegal, yaitu tindakan tersebut
             sesuai atau tidak dengan norma hukum yang valid untuk menilai sebagai bagian dari tata
             hukum positif. Keadilan menurut Hans Kelsen adalah legalitas, sehingga tolok ukur hukum
             yang adil adalah sah menurut hukum (Atmaja, 2013). Konsep keadilan Hans Kelsen menurut

             Peneliti  tidak  relevan  jika  diterapkan  dalam  penyelenggaraan  kegiatan  pengadaan  tanah
             karena  dalam  penyelenggaraan  pengadaan  tanah  terdapat  hak  dasar/kebutuhan  dasar
             manusia yang harus dilepaskan oleh masyarakat kepada Pemerintah sehingga keadilan tidak

             hanya berhubungan dengan aspek legalitas namun juga dari aspek kemanusiaan sebagai hak
             asasi manusia.
   400   401   402   403   404   405   406   407   408   409   410