Page 403 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 403

Titin Rohayati, Suryanto, Gunung Radjiman: Permasalahan Pengadaan Tanah pada ...     395


             tanah  pengganti.  Pun  demikian  pada  ganti  kerugian  dalam  bentuk  pemukiman  kembali
             diberikan  bersamaan  dengan  pelepasan  hak  oleh  pihak  yang  berhak  tanpa  menunggu
             tersedianya pemukiman kembali sebagaimana tercantum pada Pasal 78 ayat (4) PP 71 Tahun
             2012. Sementara itu, pemberian ganti kerugian dalam bentuk uang pun tidak diikuti dengan

             monitoring pasca pengadaan tanah sehingga bagaimana kondisi warga terdampak apakah
             dapat  melanjutkan  kehidupannya  kembali,  apakah  mampu  bertahan  dan  mencapai
             kesejahteraan  tidak  dapat  terpantau.  Kebijakan  kompensasi  yang  demikian,  tidak  sejalan

             dengan konsep keadilan menurut Nuruddin (1995) yang mengemukakan konsep keadilan
             dari perspektif  Ajaran Islam. Konsep keadilan Nuruddin menempatkan keadilan berimbang
             dalam hak dan kewajiban secara hukum formal. Ia berpendapat bahwa keadilan bertolak dari
             konsep yang berakar dari kesadaran ke-Tuhan-an (taqwa) sehingga keadilan dalam Al Quran

             mempunyai implikasi terhadap tanggungjawab moral yang meliputi:
             1.  keadilan hukum yang menempatkan secara formal semua orang sama di hadapan hukum
                dimana  keadilan  yang  diterapkan  adalah  keadilan  yang  berimbang  antara  hak  dan
                kewajiban;

             2.  keadilan  sosial  ekonomi  yang  menekankan  persamaan  manusia  (egalitarianisme)  dan
                menghindarkan  segala  bentuk  kepincangan  sosial  yang  berpangkal  dari  kepincangan
                ekonomi;

             3.  keadilan  dalam  hubungan  antar  golongan  yang  memberikan  peluang  untuk  hidup
                berdampingan secara damai dan bersahabat.
                  Pengutamaan ganti kerugian dalam bentuk uang yang tidak diikuti dengan pendam-
             pingan  pasca  pengadaan  tanah  dan  kegiatan  pemulihan  kondisi  sosial  ekonomi  warga

             terdampak berpotensi menimbulkan kepincangan baik kepincangan sosial maupun ekonomi.
             Sumardjono (2009) menyebutkan bahwa tersedianya prasarana membawa akibat terhadap
             peningkatan harga tanah, dengan akibat lebih jauh bahwa hanya mereka yang mempunyai
             akses  modal  kuat  yang  dapat  menguasai  tanah-tanah  tersebut  dan  apabila  hal  itu  tidak

             dibatasi, maka mereka akan cenderung menggunakannya untuk tujuan spekulatif ketimbang
             produktif. Dalam kasus pengadaan tanah JJLS, ketidakhadiran Negara dalam bentuk regulasi
             pasca  pengadaan  tanah  dan  pemberian  kompensasi  berbentuk  uang  tunai  tanpa  diikuti

             dengan pendampingan dan pemberdayaan dalam proses pemulihan kondisi sosial ekonomi
             warga terdampak menjadikan warga terdampak harus bersaing dengan para spekulan tanah
             dan  para  pemilik  modal  dalam  usaha  mencari  tanah  pengganti  maupun  dalam  usaha
             pemulihan kondisi sosial ekonomi pasca pengadaan tanah. Bagi sebagian besar warga terkena

             proyek  pembebasan  lahan,  tetap  tinggal  di  sekitar  lokasi  pembebasan  lahan  merupakan
             pilihan  utama  untuk  mempertahankan  nilai-nilai  sosial  dan  ikatan  psikologisnya  dengan
             tanah yang telah dilepaskan. Namun pilihan tersebut berhadapan degan sulitnya mencari

             tanah penganti karena harganya yang tak terkendali. Di sisi lain, terbangunnya infrastruktur
             menjadi  magnet  tersendiri  bagi  para  spekulan  dan  pemilik  modal  (swasta)  untuk
   398   399   400   401   402   403   404   405   406   407   408