Page 398 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 398

390    Prosiding Seminar: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya



             masyarakat  masih  mengakui  dan  menjalankan  sistem  administrasi  pertanahan  secara
             tradisional  seperti  adanya  Hak  Anggaduh,  kekancingan,  hak  turun-temurun,  dll.  Hal
             tersebutlah yang kemudian memunculkan konflik.
                  Konflik  karena  adanya  perbedaan  antara  bukti  legal  formal  dengan  kenyataan  di

             lapangan  seperti  yang  terjadi  dalam  kasus  pengadaan  tanah  JJLS  DIY,  menurut  Sumarto
             (2010)  disebut  sebagai  konflik  data.  Lebih  lanjut  ia  menjelaskan  bahwa  konflik  data,
             disebabkan  karena  informasi  yang  tidak  lengkap,  informasi  yang  keliru,  pendapat  yang

             berbeda tentang hal-hal yang relevan, interpretasi data yang berbeda, dan perbedaan pro-
             sedur penilaian. Ketidaksinkronan data ini disebabkan karena lemahnya sistem administrasi
             pertanahan.  Menurut  Sutaryono  (2010),    pembangunan  data  pertanahan  dalam  bentuk
             informasi  pertanahan  idealnya  mirip  dengan  pembangunan  data  kependudukan.  Dalam

             masalah  kependudukan,  yaitu  sensus  penduduk  bertujuan  mengetahui  jumlah  penduduk
             dalam  berbagai  klasifikasinya.  Dan  diadakan  setiap  lima  tahun  sekali,  untuk  mengetahui
             perkembangannya disertai tata buku perubahan hariannya. Dalam administrasi pertanahan
             harusnya  mampu  menyajikan  jumlah  bidang  tanah  dalam  berbagai  klasifikasinya,  serta

             menyajikan perubahan hariannya. Karena begitu seorang anak lahir telah melahirkan ke-
             adaan  bidang  tanah  mengalami  perubahan.  Bagian  ini  adalah  termasuk  dalam  fung-
             si/infrastruktur  informasi  pertanahan.  Namun  demikian,  dalam  implementasinya,  belum

             semua  bidang  tanah  di  Indonesia  terdaftar  dalam  sistem  administrasi  pertanahan  kita.
             Bahkan,  yang  sudah  terdaftar  pun  masih  berkonflik  karena  data-data  administrasi
             pertanahan sekarang masih berupa data tunggal yang belum terkoneksi dengan informasi
             lain, serta belum menyajikan data yang up to date sesuai dengan kondisi lapangan.


             B.  Ketidaksetaraan Proses Komunikasi dan Informasi yang Menyebabkan
                 Resistensi dari Masyarakat
                  Permasalahan informasi komunikasi yang menyebabkan resistensi masyarakat terhadap

             proyek pembebasan lahan muncul sebagai akibat belum ditempatkannya masyarakat secara
             setara dalam setiap tahapan pengadaan tanah. Informasi yang kurang transparan dan metode
             musyawarah  satu  arah memposisikan  masyarakat  sebagai  pihak  yang  subordinat,  sebagai

             korban kebijakan yang tidak memiliki posisi tawar, karena pilihan yang ada hanya menerima
             atau  menolak  melalui  pengadilan.  Sementara  partisipasi  masyarakat  dalam  perencanaan
             masih  sangat  terbatas.  Ketiadaan  petunjuk  teknis  penyelenggaraan  sosialisasi,  konsultasi
             publik dan musyawarah menjadikan para pelaksana pengadaan tanah menggunakan cara-

             cara termudah yang dinilai paling efisien dalam hal waktu karena adanya pembatasan waktu
             pada setiap tahapan dalam pengadaan tanah.
   393   394   395   396   397   398   399   400   401   402   403