Page 477 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 477

Suhadi: Perolehan Tanah untuk Pembangunan PLTU Jawa Tengah ...     469


                  Pengkategorian  pembangunan  PLTU  Batang  sebagai  proyek  pembangunan  untuk
             kepentingan umum terjadi setelah perolehan tanah menggunakan instrumen izin lokasi tidak
             berhasil untuk membebaskan secara keseluruhan tanah yang dibutuhkan. Oleh karena itu,
             keputusan penetapan lokasi terkait tanah untuk PLTU Batang digunakan istilah Persetujuan

             Penetapan Lokasi Pengadaan Tanah Sisa Lahan Seluas 125.146 m2 Pembangunan Pembangkil
             Listrik Tenaga Uap Jawa Tengah 2 X 1000 MW di Kabupaten Batang Provinsi Jawa Tengah.
             PadahalPasal  10  huruf  (f)  Undang  Undang  Nomor  2  Tahun  2012  menegaskan  bahwa

             pembangunan pembangkit, transmisi, gardu, jaringan, dan distribusi tenaga listrik termasuk
             pembangunan  untuk  kepentingan  umum.  Dengan  demikian,  dilihat  dari  jenis  pem-
             bangunannya telah nyata bahwa pembangunan PLTU Batang termasuk jenis pembangunan
             untuk kepentingan umum.

                  Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah
             Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum yang merupakan pelaksanaan lebih lanjut
             dari Pasal 53 ayat (3) dan Pasal 59 Undang Undang Nomor 2 Tahun 2012 memang mengenal
             cara perolehan tanah secara langsung dalam kegiatan pengadaan tanah untuk kepentingan

             umum, tetapi perolehan langsung ini tidak terkait dengan pihak yang membutuhkan tanah,
             tetapi terkait dengan luasan tanah. Dengan kata lain, di dalam pengadaan tanah dikenal juga
             cara perolehan secara langsung. Sebagaimana ketentuan Pasal 121 Peraturan Presiden Nomor

             71  Tahun  2012  yang  mengatur  sebagai  berikut:  dalam  rangka  efisiensi  dan  efektifitas,
             pengadaan tanah untuk Kepentingan Umum yang luasnya tidak lebih dari 1 (satu) hektar,
             dapat dilakukan secara langsung oleh Instansi yang memerlukan tanah dengan pemegang
             hak atas tanah, dengan cara jual beli atau tukar menukar atau cara lain yang disepakati kedua

             belah pihak. Berdasarkan rumusan Pasal 121 Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 ini
             masih  konsisten  dengan  Undang  Undang  Nomor  12  Tahun  2012  bahwa  pengadaan  tanah
             dilakukan  oleh  pemerintah,  yang  membutuhkan  tanah  adalah  instansi  dan  bukan  badan
             usaha. Instansi menurut Pasal 1 angka 1 diberikan pengertian lembaga negara, kementerian

             dan  lembaga  pemerintah  nonkementerian,  pemerintah  provinsi,  pemerintah  kabupaten/
             kota, dan badan hukum milik negara/badan usaha milik negara yang mendapat penugasan
             khusus pemerintah.

                  Namun demikian dalam perkembangannya, Perpres 71 Tahun 2012 ini diubah,  terakhir
             dengan  Peraturan  Presiden  Nomor    148  Tahun  2015  tentang  Perubahan  Keempat  Atas
             Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi
             Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. Hal penting dalam Peraturan Presiden Nomor 148

             Tahun  2015  ini  adalah  bahwa  pengadaan  tanah  secara  langsung  melalui  jual  beli,  tukar
             menukar atau cara lain yang disepakati bisa dilakukan apabila tanah yang dibutuhkan kurang
             dari 5 hektar. Selain itu ada penambahan Pasal 121 A yang pada prinsipnya mengatur bahwa

             pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum sebagaimana diatur dalam
             Pasal 10 huruf b sampai dengan r Undang Undang Nomor 2 Tahun 2012, yang dilaksanakan
   472   473   474   475   476   477   478   479   480   481   482