Page 478 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 478

470    Prosiding Seminar: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya



             oleh badan usaha swasta, dilakukan langsung dengan cara jual beli, tukar menukar, atau cara
             lain yang disepakati oleh pihak yang berhak dengan badan usaha swasta.
                  Keberadaan Pasal 121 A ini apabila dikaitkan dengan Undang Undang Nomor 2 tahun
             2012  merupakan  bentuk  pengaturan  baru  yang  sebelumnya  tidak  diatur,  dan  merupakan

             bentuk pengaturan yang bertentangan dengan Undang Undang Nomor 2 Tahun 2012. Hal ini
             sangat jelas apabila dikaitkan dengan Pasal 6 dan Pasal 11 ayat (1) serta Pasal 12 ayat (1). Pasal
             6  dengan  tegas  mengatur  bahwa  pengadaan  tanah  untuk  kepentingan  umum

             diselenggarakan  oleh  Pemerintah.  Pasal  11  ayat  (1)  Pengadaan  Tanah  untuk  kepentingan
             umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 wajib diselenggarakan oleh Pemerintah dan
             tanahnya  selanjutnya  dimiliki  Pemerintah  atau  Pemerintah  Daerah.  Dengan  rumusan  ini
             dapat dimaknai bahwa penyelenggara pengadaan tanah adalah Pemerintah, artinya pihak

             yang memerlukan dan kemudian menyediakaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan itu
             adalah pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dan bukan badan
             usaha  swasta.  Tanah  dari  kegiatan  pengadaan  ini  selanjutnya  dimiliki  Pemerintah  atau
             Pemerintah Daerah, dan apabila instansi yang memerlukan pengadaan tanah adalah BUMN

             tanahnya menjadi milik BUMN.
                  Dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012, kerjasama dengan pihak swasta dimung-
             kinkan  dalam  hal  pembangunan  untuk  kepentingan  umum,  salah  satunya  adalah  pem-

             bangunan pembangkit listrik. Pasal 10 huruf (f) menegaskan bahwa pembangunan pembang-
             kit, transmisi, gardu, jaringan, dan distribusi tenaga listrik termasuk pembangunan untuk
             kepentingan umum. Pasal 12 ayat (1) menegaskan bahwa pembangunan untuk kepentingan
             umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf b sampai dengan huruf r wajib dise-

             lenggarakan Pemerintah dan dapat bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Negara, Badan
             Usaha Milik Daerah, atau Badan Usaha Swasta. Dengan demikian, dalam kaitannya dengan
             PLTU Batang, pembangunan PLTU Batang dengan model kerjasama antara Pemerintah dan
             Swasta memang dapat dilakukan karena pembangunan pembangkit listrik merupakan salah

             satu jenis pembangunan yang dapat dikerjasamakan, tetapi Pasal 12 ayat (1) tidak mengatur
             tentang pengadaan tanahnya. Dengan melandaskan pada ketentuan Pasal 11 Undang Undang
             Nomor 2 Tahun 2012, pengadaan tanah untuk kepentingan umum (termasuk tanah untuk

             PLTU Batang), wajib diselenggarakan oleh Pemerintah dan tanahnya selanjutnya dimiliki
             Pemerintah atau Pemerintah Daerah.
                  Ketidakjelasan  masalah  pengadaan  tanah  untuk  pembangunan  infrastruktur  dengan
             skema  kerjasama  pemerintah  dan  swasta  dalam  perkembangan  peraturan  perundang-

             undangan  terkini,  diatasi  melalui  Peraturan  Presiden  Nomor  148  Tahun  2015.  Dalam
             Peraturan Presiden Nomor 148 Tahun 2015 penyelenggara atau pelaksana pengadaan tanah
             maknanya diperluas, yaitu selain pemerintah adalah juga badan usaha swasta, yaitu badan

             usaha swasta yang mendapatkan kuasa berdasarkan perjanjian dan mendapatkan penugasan
             khusus pemerintah dalam rangka penyediaan infrastruktur untuk kepentingan umum. Hal
   473   474   475   476   477   478   479   480   481   482   483