Page 149 - Konstitusionalisme Agraria
P. 149

eks PKI pada akhir tahun 1960-an. Bahkan Ransom menuliskan judul
            artikelnya itu di Majalah Ramparts dengan judul: “The Berkeley Mafia
            and the Indonesian Massacre.” (Ransom, 1970).
                 Dalam rangka memfasilitasi penanaman modal asing di bidang
            kehutanan, Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah No.
            22 Tahun 1967 tentang Iuran Hak Pengusahaan Hutan dan Iuran
            Hasil Hutan. Beberapa produk legal penting lain yang dihasilkan
            Pemerintah untuk memfasilitasi industri kehutanan antara lain
            adalah (1) Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 1970, tentang Hak
            Pengusahaan Hutan dan Hak Pemungutan Hasil Hutan dan (2)
            Keputusan Presiden No. 20 Tahun 1975 tentang Kebijaksanaan di
            Bidang Pemberian Hak Pengusahaan Hutan.
                 Setelah difasilitasi berbagai kebijakan di atas, kita dapat melihat
            pesatnya kegiatan perusahaan pemegang Hak Pengusahaan Hutan
            (PP-HPH) mengeksploitasi hutan alam sejak akhir tahun 1960-an dan
            mencapai puncaknya pada tahun 1980-an. Pesatnya perkembangan
            pengusahaan hutan di Indonesia, khususnya hutan alam tropika di luar
            Jawa sejak akhir tahun 1960-an juga dapat dilihat dari perkembangan
            jumlah PP-HPH, peningkatan jumlah produksi kayu bulat dan kayu
            olahan, peningkatan jumlah tenaga kerja yang bergiat di sektor
            kehutanan, peningkatan hasil devisa yang diperoleh negara dari ekspor
            kayu, dan pendapatan pemerintah dari Iuran Hak Pengusahaan Hutan,
            Iuran Hasil Hutan serta Dana Reboisasi. Semua manfaat ini dapat
            dilihat dalam berbagai laporan pemerintah (Marzali, 2002).



                  Bagan 1. Pengurangan tutupan hutan di Indonesia


















               118     Konstitusionalisme Agraria
   144   145   146   147   148   149   150   151   152   153   154