Page 168 - Konstitusionalisme Agraria
P. 168
perlengkapan pertanian. Penggunaan pupuk menyebabkan
ketergantungan para petani terhadap pupuk semakin tinggi, sehingga
biaya produksi semakin tinggi. Petani memang bisa memperoleh
hasil pertanian yang meningkat, namun biaya produksi juga
meningkat karena ada banyak biaya produksi tambahan untuk
membeli bibit unggul, pupuk, pestisida dan bahan kimia lainnya.
Dampak lain adalah menurunnya produksi protein dikarenakan
pengembangan serealia (sebagai sumber karbohidrat) tidak
diimbangi dengan pengembangan sumber protein. Diversifikasi
pangan juga terhambat karena menanam padi dijadikan sebagai
budaya kelas satu, dan menempatkan sumber pangan lain seperti
jagung, ubi, ketela, sagu dan lain sebagainya sebagai budaya
pertanian yang inferior. Hal ini sangat terasa bagi masyarakat Papua
yang sebelumnya mengkonsumsi sagu, kemudian mulai beralih
mengkonsumsi beras yang dalam jangka panjang mempengaruhi
kedaulatan mereka atas pangan dan lahan pertanian.
Program pertanian pada masa ini tidak berhasil membangun
kedaulatan pangan (food sovereignty) , meskipun telah
30
berhasil meningkatkan hasil pertanian dan membuat Indonesia
berswasembada beras. Program pertanian ini tidak dijalankan untuk
menciptakan kedaulatan pangan karena dilakukan secara instruktif
dengan memobilisasi petani untuk menerapkan pola pertanian
modern yang membuat mereka tergantung kepada pupuk dan
pestisida yang meningkatkan biaya produksi pertanian. Tidak ada
kedaulatan bagi petani untuk menentukan bibit dan melakukan
aktivitas pertanian secara leluasa. Program pertanian ini tidak
30 Istilah Kedaulatan Pangan (food sovereignty) merupakan pradigma tandingan dari
program ketahanan pangan (food security). Wittman mengemukan ada empat hal yang
membedakan antara Rezim Kedaulatan Pangan (Food Sovereignty Regime) dengan Rezim
Pangan Neoliberal (Neoliberal Food Regime). Pertama, akses pangan dengan memprioritaskan
produksi pertanian lokal dan melindungi pasar lokal dari pangan impor yang disubsidi oleh
pemerintah. Kedua, pertanian berkelanjutan sebagai bagian dari diversifikasi ekonomi
untuk meningkatkan kesejahteraan nasional dan memacu pertumbuhan ekonomi. Ketiga,
petani harus efisien dan kompetitif melalui diversifikasi produksi, menggunakan teknologi
alternatif dan meminimalkan penggunaan input eksternal seperti pupuk kimia. Keempat,
pertanian dan perlindungan lingkungan merupakan bagian yang integral sehingga aktivitas
pertanian harus melindungi keanekaragaman hayati dan meninggalkan ruang untuk area
konservasi (Wittman, 2011:91).
Konstitusi Agraria dan Penggunaannya dalam Tiga Rezim Pemerintahan 137

