Page 420 - Konstitusionalisme Agraria
P. 420

audit, melakukan pengendalian dan melakukan penegakan hukum
            agar pelaksanaan penguasaan oleh negara atas tanah dan sumber
            daya alam lainnya.
                  Keempat, empat tolak ukur penguasan negara. Tujuan dari
            penguasaan negara atas tanah dan sumber daya alam lainnya adalah
            untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, sebagaimana dinyatakan
            dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Mahkamah Konstitusi menegaskan
            bahwa tujuan untuk mewujudkan sebesar-besar kemakmuran
            rakyat tidak bisa dipisah-pisahkan dengan kewenangan penguasaan
            negara. Tolak ukur untuk menilai apakah suatu ketentuan undang-
            undang sejalan dengan “prinsip sebesar-besar kemakmuran rakyat”
            terdiri dari empat empat tolak ukur, yaitu: (a) Adanya kemanfaatan
            sumber daya alam bagi rakyat; (b) Tingkat pemerataan manfaat
            sumber daya alam bagi rakyat; (c) Tingkat partisipasi rakyat dalam
            menentukan manfaat sumber daya alam; dan (d) Penghormatan
            terhadap hak rakyat secara turun temurun dalam memanfaatkan
            sumber daya alam. Keempat tolak ukur itu menjadi batasan pula
            bagi penguasaan negara, sehingga negara cq. Pemerintah tidak bisa
            melakukan tindakan sewenang-wenang sebab memiliki sejumlah
            ketentuan yang membatasinya.

                  Konsepsi ini mendudukan peran negara sebagai badan publik,
            yang memiliki kewenangan-kewenangan publik. Oleh karena itu,
            instrumen keperdataan yang dimiliki oleh negara mulai dikurangi
            dan harus diubah dengan mempergunakan instrument hukum
            publik. Hal ini misalkan dalam hal pemberian Hak Pengelolaan
            Perairan dan Pesisir (HP3) yang sebelumnya diberikan dalam bentuk
            ‘hak’ berdasarkan UU No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan
            Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, menurut Mahkamah
            Konstitusi tidak sejalan dengan prinsip mengenai kewenangan
            negara dalam menguasai tanah dan sumber daya alam. Mahkamah
            Konstitusi ‘menganjurkan’ bahwa instrument hukum yang lebih
            tepat dalam hal ini bukan dalam bentuk pemberian HP3, melainkan
            dalam bentuk instrumen perizinan. Dalam UU No. 1 Tahun 2014 yang
            merupakan perubahan terhadap UU No. 27 Tahun 2007, pembentuk
            undang-undang mengganti HP3 dengan Izin Pengelolaan. Hal yang


                                        Konstitusionalisme dan Reforma Agraria     389
   415   416   417   418   419   420   421   422   423   424   425