Page 459 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 459

http://pustaka-indo.blogspot.com
             bukti yang memadai.

             Kecenderungan  konservatif  telah  muncul  ke  permukaan
             selama  abad  keempat  belas  dalam  diri  para  ahli  syariat,
             seperti Ahmad ibn Taymiyah dari Damaskus (w. 1328) dan
             muridnya  Ibn  Al-Qayim  Al-Jawziyah.  Ibn  Taymiyah,  yang
             sangat  dicintai  oleh  masyarakat,  ingin  memperluas  syariat
             hingga  dapat  berlaku  pada  seluruh  keadaan  yang  mungkin
             dihadapi oleh kaum Muslim. Syariat tidak dimaksudkan untuk
             menjadi  disiplin  yang  mengekang.  Ibn  Taymiyah  ingin
             membuang  hukum-hukum  yang  sudah  usang  untuk
             menjadikan syariat lebih relevan dan mengurangi kecemasan
             kaum Muslim dalam menghadapi masa-masa sulit ini. Syariat
             harus memberi mereka sebuah jawaban yang jelas dan logis
             terhadap  persoalan-persoalan  keagamaan  praktis  mereka.
             Akan  tetapi,  semangat  Ibn  Taymiyah  terhadap  syariat  ini
             dihadang oleh kalam, falsafah, dan bahkan Asy‘ariah. Seperti
             halnya  setiap  pembaru,  dia  ingin  kembali  kepada  sumber-
             sumber  asasi—Al-Quran  dan  hadis  (yang  menjadi  prinsip
             dasar  syariat)—dan  membuang  semua  tambahan  yang
             datang belakang: “Aku telah mencermati metode teologis dan
             filosofis,   namun   ternyata   semuanya   tak   mampu
             menyembuhkan  luka  atau  memuaskan  dahaga.  Bagiku,
             metode  yang  paling  baik  adalah  metode  Al-Quran.” 1
             Muridnya,  Al-Jawziyah,  menambahkan  sufisme  ke  dalam
             daftar bid‘ah ini, dan mengajukan tafsiran harfiah atas kitab
             suci  serta  mencela  kultus  guru-guru  sufi  dalam  semangat
             yang tidak banyak berbeda dengan para Reformis Protestan
             di Eropa. Seperti Luther dan Calvin, langkah Ibn Taymiyah
             dan  Al-Jawziyah  tidak  dipandang  oleh  orang  sezaman
             mereka  sebagai  langkah  mundur:  mereka  dianggap  kaum
             progresif yang bermaksud meringankan beban umat.


             Hodgson  memperingatkan  kita  untuk  tidak  memandang  apa



                            ~452~ (pustaka-indo)
   454   455   456   457   458   459   460   461   462   463   464