Page 521 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 521
http://pustaka-indo.blogspot.com
masyarakatnya. Seorang penemu yang melakukan upaya
imajinatif untuk membuka bidang baru dan, dalam prosesnya,
menumbangkan pandangan-pandangan lama yang telah
disakralkan, dipandang sebagai pahlawan budaya. Ada
optimisme baru tentang kemanusiaan seiring kendali atas
alam, yang dahulu pernah memperbudak umat manusia,
tampak semakin maju dan berkembang. Orang-orang mulai
percaya bahwa pendidikan yang lebih baik dan hukum-
hukum yang diperbarui akan membawa cahaya baru bagi
semangat kemanusiaan. Kepercayaan diri yang baru
terhadap kekuatan alamiah manusia ini mengandung arti
bahwa orang-orang mulai yakin bahwa mereka mampu
mencapai pencerahan lewat usaha mereka sendiri. Mereka
tak lagi merasa perlu untuk bersandar pada warisan tradisi,
sebuah institusi, sekelompok elit—atau, bahkan, wahyu dari
Tuhan—untuk menemukan kebenaran.
Namun, keharusan spesialisasi berimplikasi bahwa orang-
orang yang terlibat di dalam proses spesialisasi menjadi tak
mampu melihat gambaran yang utuh. Akibatnya, para
ilmuwan dan intelektual inovatif merasa harus
mengembangkan teori mereka sendiri tentang kehidupan dan
agama, mulai dari awal. Mereka merasa bahwa peningkatan
pengetahuan dan keefektifan membuat mereka harus
menelaah kembali penjelasan Kristen tradisional tentang
realitas dan menyesuaikannya dengan perkembangan zaman.
Spirit ilmiah baru bersifat empiris, semata-mata didasarkan
pada observasi dan eksperimen. Telah kita saksikan bahwa
rasionalisme falsafah kuno bergantung pada tindakan awal
berupa keyakinan pada semesta yang rasional. Sains Barat
tidak menerima sesuatu dengan begitu saja seperti ini, dan
para pelopornya telah bersiap untuk menghadapi risiko salah
atau terpaksa meruntuhkan autoritas dan institusi mapan,
seperti Alkitab, gereja, dan tradisi Kristen. “Bukti-bukti”
~514~ (pustaka-indo)

