Page 577 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 577
http://pustaka-indo.blogspot.com
beraliran Sabbatarian. Namun, tampaknya banyak rabi
terkemuka abad kedelapan belas percaya bahwa Shabbetai
adalah seorang Mesias. Scholem berpendapat bahwa
meskipun Mesianisme tidak pernah menjadi gerakan massa
dalam Yudaisme, jumlahnya tidak bisa dianggap remeh.
Aliran itu memiliki daya tarik istimewa bagi kaum Marranos,
yang pernah dipaksa Spanyol untuk menganut Kristen namun
akhirnya kembali ke Yudaisme. Penjelasan tentang
kemurtadan sebagai sebuah misteri telah berhasil meredakan
rasa bersalah dan sedih mereka. Sabbatarian berkembang di
komunitas Sephardik di Maroko, Balkan, Italia, dan
Lithuania. Beberapa di antaranya, seperti Benjamin Kohn
dari Reggio dan Abraham Rorigo dari Modena, terkenal
sebagai Kabbalis yang tetap menjaga hubungan dengan
gerakan rahasia. Di Balkan, sekte Mesianik menyebar ke
orang Yahudi Ashkenazik di Polandia, yang dilemahkan dan
ditindas oleh gerakan antiSemitisme yang menyala di Eropa
Timur. Pada tahun 1759, para murid seorang nabi asing dan
malang, Jacob Frank, meneladani Mesias mereka dan secara
massal beralih memeluk Kristen, sambil tetap bersetia
kepada Yudaisme secara diam-diam.
Scholem memberikan contoh peristiwa yang hampir sama di
kalangan Kristen. Sekitar enam ratus tahun sebelumnya, ada
sekelompok Yahudi yang tak mampu untuk menghapuskan
harapan mereka terhadap seorang Mesias yang mati sebagai
pelaku kriminal biasa di Yerusalem. Apa yang oleh Paulus
disebut skandal salib tak kurang mengejutkannya dibanding
skandal seorang Mesias yang murtad. Dalam kedua kasus
itu, para pengikutnya memproklamasikan kelahiran bentuk
Yudaisme baru untuk menggantikan yang lama; mereka
menganut sebuah kredo yang paradoksikal. Kepercayaan
kaum Kristen bahwa ada kehidupan baru dalam kekalahan
Salib adalah mirip dengan keyakinan kaum Sabbatarian
~570~ (pustaka-indo)

