Page 584 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 584

http://pustaka-indo.blogspot.com
             berasimilasi  sepenuhnya  ke  dalam  Turki  sekular  Kemal
             Atatürk.  Permusuhan  yang  dirasakan  oleh  semua
             Sabbatarian  terhadap  kesalehan  lahiriah  dalam  pengertian
             tertentu merupakan pemberontakan terhadap kondisi ghetto.
             Sabbatarianisme,  yang  pernah  melihat  agama  yang
             terbelakang  dan  obskurantis  seperti  itu,  telah  membantu
             mereka  untuk  memerdekakan  diri  dari  adat  lama  dan
             membuat mereka terbuka terhadap ide-ide baru. Sabbatarian
             moderat, yang secara lahiriah tetap setia kepada Yudaisme,
             sering  menjadi  pelopor  dalam  Pencerahan  Yahudi
             (Haskalah);  mereka  juga  aktif  dalam  mewujudkan
             Reformasi  Yudaisme  selama  abad  kesembilan  belas.
             Maskilim  yang  melakukan  reformasi  ini  acap  memiliki
             gagasan  yang  merupakan  campuran  yang  lama  dan  yang
             baru.  Joseph  Wehte  dari  Praha,  misalnya,  yang  menulis
             sekitar  tahun  1800,  berkata  bahwa  pahlawan-pahlawannya
             adalah Moses Mendelssohn, Immanuel Kant, Shabbetai Zevi,
             dan  Isaac  Luria.  Tidak  semua  orang  meniti  jalan  menuju
             modernitas melalui jalur sains dan filsafat yang pelik: kredo
             mistikal dari Yahudi dan Kristen radikal yang menancap ke
             dalam  hati  memampukan  mereka  menghadapi  sekularisme
             yang pernah mereka anggap menjijikkan. Beberapa di antara
             mereka mengadopsi gagasan baru tentang Tuhan—gagasan
             yang  pada  akhirnya  memampukan  keturunan  mereka
             mencampakkan Tuhan sama sekali.


             Pada saat yang sama, ketika Jacob Frank mengembangkan
             ajaran  nihilistiknya,  orang  Yahudi  Polandia  lainnya
             menemukan  seorang  Mesias  yang  sangat  berbeda.  Sejak
             peristiwa  pembunuhan  massal  1648,  Yahudi  Polandia
             mengalami  trauma  dislokasi  dan  demoralisasi  yang  sama
             kuatnya  dengan  pengusiran  kaum  Sephardim  dari  Spanyol.
             Banyak  di  antara  keluarga  Yahudi  Polandia  yang  sangat
             terdidik  dan  spiritual  dibunuh  atau  dipaksa  bermigrasi  ke




                            ~577~ (pustaka-indo)
   579   580   581   582   583   584   585   586   587   588   589