Page 587 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 587
http://pustaka-indo.blogspot.com
kaum mistikus untuk menyadari keberadaan Tuhan ke mana
pun mereka menoleh. Seperti yang telah dijelaskan oleh
Kabbalis Safed abad ketujuh belas, seorang mistikus harus
duduk menyendiri, menyisihkan waktu untuk mempelajari
Taurat dan “membayangkan cahaya Shekinah di atas kepala
mereka, seakan-akan mengalir ke sekeliling mereka dan
55
mereka duduk di tengah-tengah cahaya”. Rasa kehadiran
Tuhan ini akan mengantarkan mereka kepada kebahagiaan
yang menggetarkan dan ekstatik. Besht mengajarkan para
pengikutnya bahwa ekstasi ini tidak hanya untuk elit mistikal
tertentu, tetapi setiap orang Yahudi berkewajiban untuk
mengamalkan devekuth dan menyadari keserbahadiran
Tuhan: kegagalan dalam devekuth setara dengan
keberhalaan, sebuah pengingkaran terhadap pernyataan
bahwa tak ada sesuatu yang sungguh-sungguh ada selain
Tuhan. Hal ini membawa Besht ke dalam konflik dengan
kemapanan yang merasa khawatir bahwa orang Yahudi akan
meninggalkan pengkajian Taurat demi devosi yang secara
potensial berbahaya dan eksentrik ini.
Namun demikian, Hasidisme berkembang pesat karena
membawakan pesan harapan kepada kaum Yahudi yang
sedang berputus asa: banyak di antara pengikutnya
dahulunya merupakan Sabbatarian. Besht tidak ingin para
muridnya mengabaikan Taurat. Sebaliknya, dia memberi
interpretasi mistikal baru terhadap Taurat: kata mitzvah
(perintah) berarti ikatan. Ketika seorang Hasid
melaksanakan satu perintah Taurat sembari mengamalkan
devekuth, dia berarti sedang mengikat dirinya kepada Tuhan,
Dasar dari semua wujud, dan pada saat yang bersamaan dia
juga menyatukan kembali percikan cahaya ilahi yang ada di
dalam diri orang atau benda yang bersentuhan dengannya.
Taurat telah sejak lama menganjurkan orang Yahudi untuk
menyucikan dunia dengan cara mengamalkan mitzvot, dan
~580~ (pustaka-indo)

