Page 599 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 599
http://pustaka-indo.blogspot.com
telah menjadi Deus Otiosus: “Entah Tuhan itu ada atau tidak,
Dia tetap termasuk kebenaran yang sangat sublim dan tak
66
bermakna.” Dia tiba pada kesimpulan yang bertentangan
dengan Pascal, yang memandang taruhan itu penting dan
tidak bisa diabaikan. Di dalam Pensées Philosophiques,
diterbitkan pada 1746, Diderot menepis pengalaman
keagamaan Pascal karena terlalu subjektif: Pascal dan kaum
Jesuit samasama memiliki kecintaan besar terhadap Tuhan
tetapi memiliki gagasan yang sangat berbeda tentangnya,
bagaimana memilih di antara keduanya? “Tuhan” semacam
itu tak lebih dari tempérament. Dalam soal ini, tiga tahun
sebelum publikasi A Letter to the Blind, Diderot yakin
bahwa sains—dan hanya sains—yang mampu menolak
ateisme. Dia mengembangkan interpretasi baru yang
mengesankan tentang argumen berdasarkan ketertiban alam
(argument from design). Alih-alih menelaah alam yang luas,
dia menganjurkan orang-orang untuk menelaah struktur yang
mendasari alam. Susunan organ jasad renik, kupu-kupu atau
seekor serangga adalah terlalu rumit untuk dianggap terjadi
secara kebetulan. Dalam Pensées, Diderot masih percaya
bahwa akal bisa membuktikan eksistensi Tuhan. Newton
telah mencampakkan semua takhayul dalam agama yang
menggambarkan Tuhan yang mencipta mukjizat berada
setingkat dengan hantu untuk menakutnakuti anak-anak kita.
Akan tetapi, tiga tahun kemudian, Diderot mulai
mempersoalkan Newton dan tidak lagi yakin bahwa alam
eksternal memberikan suatu bukti tentang Tuhan. Dia melihat
dengan jelas bahwa Tuhan tidak ada hubungannya dengan
sains baru. Namun, dia hanya dapat mengungkapkan
pemikiran revolusioner dan berkobar ini dalam terma
fiksional. Di dalam A Letter to the Blind, Diderot
membayangkan perdebatan antara seorang pengikut
Newton, yang dia beri nama “Mr. Holmes”, dan Nicholas
~592~ (pustaka-indo)

