Page 601 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 601
http://pustaka-indo.blogspot.com
sama sekali. Dia tidak sendirian dalam keyakinannya: para
ahli sains, seperti Abraham Trembley dan John Turbeville
Needham telah menemukan prinsip materi generatif, yang
kini muncul ke permukaan sebagai hipotesis dalam biologi,
mikroskopi, zoologi, sejarah alam dan geologi. Namun, hanya
sedikit orang yang betul-betul siap untuk putus hubungan
sama sekali dengan Tuhan. Bahkan, para filosof yang sering
mengunjungi Paul Heinrich, Baron dari Holbach (1723-89),
tidak secara terbuka mendukung ateisme, meskipun mereka
menyukai diskusi yang terbuka dan akrab. Dari perdebatan
mereka terbit buku Holbach, The System of Nature: or
Laws of the Moral and Physical World (1770), yang
kemudian terkenal sebagai Injilnya materialisme ateis.
Menurut Holbach, tak ada alternatif adialami bagi alam yang
“hanya merupakan mata rantai sebab akibat yang panjang
68
dan sambung-menyambung satu sama lain”. Percaya
kepada Tuhan merupakan dusta dan pengingkaran terhadap
pengalaman sejati kita, serta merupakan tindakan putus asa.
Agama telah menciptakan tuhan-tuhan karena manusia tidak
mampu menemukan penjelasan lain untuk menghibur mereka
dari tragedi kehidupan di dunia ini. Mereka beralih pada
pelipur imajiner agama dan filsafat dalam upaya
mendapatkan rasa berkuasa yang semu, mencoba
menundukkan “pelaku” yang mereka anggap berada di balik
layar untuk menghindari teror dan bencana. Aristoteles
keliru: filsafat bukanlah hasil dari keinginan mulia demi
memperoleh pengetahuan, tetapi kerinduan yang mendalam
untuk menghindari penderitaan. Oleh karena itu, agama lahir
dari kebodohan dan rasa takut, dan seorang manusia yang
dewasa dan berkecerdasan haruslah terbebas darinya.
Holbach mencoba menyusun sejarah ketuhanannya sendiri.
Manusia pertama adalah penyembah kekuatan alam.
Animisme primitif ini telah diterima karena tidak mencoba
~594~ (pustaka-indo)

