Page 598 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 598
http://pustaka-indo.blogspot.com
empirisisme baru ke kesimpulan logisnya. Tidak perlu
mengunyah tafsiran ilmiah tentang realitas dan alasan
filosofis untuk mempercayai sesuatu yang ada di luar
jangkauan indra kita. Di dalam Dialogues Concerning
Natural Religion, Hume membuang argumen yang
berusaha membuktikan eksistensi Tuhan dari ketertataan
alam, dengan menyatakan bahwa hal itu didasarkan pada
argumen analogis yang tidak konklusif. Seseorang mungkin
saja berpendapat bahwa tatanan yang kita lihat di alam
menunjukkan adanya Pengatur yang berkecerdasan, namun
bagaimana, kemudian, menjelaskan kejahatan dan kekacauan
yang nyata? Tak ada jawaban logis terhadap hal ini, dan
Hume, yang telah menulis Dialogues pada tahun 1750,
secara bijak membiarkan buku itu tidak terbit. Sekitar dua
belas bulan sebelumnya, filosof Prancis Denis Diderot (1713-
84) dipenjarakan karena mengajukan pertanyaan yang sama
dalam A Letter to the Blind for the Use of Those Who See,
yang mengetengahkan ateisme murni kepada masyarakat
umum.
Diderot sendiri menolak bahwa dirinya adalah seorang ateis.
Dia hanya mengatakan bahwa dia tidak peduli apakah Tuhan
itu ada atau tidak. Ketika Voltaire menaruh keberatan
terhadap bukunya, Diderot menjawab: “Saya percaya kepada
Tuhan, meskipun saya bergaul baik dengan orang-orang ateis
…. Jangan sampai … menyamakan cemara dengan seledri;
tetapi tak ada salahnya mau percaya atau tidak kepada
Tuhan.” Dengan sangat cermat, Diderot telah meletakkan
tangannya di atas sesuatu yang mendasar. Begitu “Tuhan”
tidak lagi menjadi pengalaman subjektif yang dirasakan
dengan penuh gairah, maka “dia” tak lagi ada. Sebagaimana
dikemukakan Diderot di dalam surat yang sama, tak ada
gunanya mempercayai Tuhan filosofis yang tidak pernah
campur tangan dalam urusan-urusan dunia. Tuhan yang gaib
~591~ (pustaka-indo)

