Page 600 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 600

http://pustaka-indo.blogspot.com
             Saunderson    (1682-1739),   seorang    matematikawan
             Cambridge  yang  buta  sejak  bayi.  Diderot  membuat
             Saunderson  bertanya  kepada  Holmes  bagaimana  argumen
             ketertiban  alam  bisa  didamaikan  dengan  “monstermonster”
             atau  musibah  seperti  yang  dialaminya  sendiri,  yang  justru
             memperlihatkan  ketiadaan  perencanaan  yang  cerdas  dan
             penuh kasih:


                   Apakah  dunia  ini,  Mr.  Holmes,  kalau  bukan
                   sekadar  sesuatu  yang  kompleks  dan  berubah
                   tanpa      henti,     semuanya      menampakkan
                   kecenderungan untuk terus-menerus rusak: satu
                   per  satu  datang  silih  berganti,  hilang  dan
                   timbul;  sekadar  simetri  sesaat  dan  tertib
                   yang sekejap. 67

             Tuhan  Newton,  dan  bahkan  Tuhan  Kristen  konvensional,
             yang  dianggap  bertanggung  jawab  secara  harfiah  terhadap
             segala sesuatu yang terjadi, bukan hanya merupakan sebuah
             absurditas   tetapi   juga   gagasan   yang   mengerikan.
             Mengajukan  “Tuhan”  sebagai  penjelasan  atas  sesuatu yang
             tidak  bisa  kita  jelaskan  merupakan  kegagalan  yang
             memalukan.  “Teman  baikku,  Mr.  Holmes,”  demikian  tokoh
             rekayasa  Diderot,  Saunderson  menyimpulkan,  “Akuilah
             kebodohan Anda.”

             Dalam pandangan Diderot, tak dibutuhkan adanya Pencipta.
             Materi bukanlah sesuatu yang pasif dan rendah sebagaimana
             yang  dibayangkan  Newton  dan  orang  Protestan,  melainkan
             memiliki  dinamikanya  sendiri  dan  tunduk  pada  hukum-
             hukumnya sendiri. hukum materi inilah—bukan Mekanik Ilahi
             —yang  bertanggung  jawab  atas  ketertiban  yang  kita
             saksikan.  Hanya  materilah  yang  bereksistensi.  Diderot
             membawa  Spinoza  selangkah  lebih  jauh.  Alih-alih
             mengatakan  bahwa  tidak  ada  Tuhan  kecuali  alam,  Diderot
             mengklaim  bahwa  hanya  ada  alam  dan  tidak  ada  Tuhan



                            ~593~ (pustaka-indo)
   595   596   597   598   599   600   601   602   603   604   605