Page 595 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 595
http://pustaka-indo.blogspot.com
oleh para philosophes dan ilmuwan semacam Newton,
tetapi sebuah realitas sangat subjektif yang tidak bisa
dipisahkan dari diri.
Abad ketujuh belas dan kedelapan belas merupakan periode
ekstremitas yang parah dan kebangkitan spirit yang
mencerminkan pergolakan revolusioner dunia politik dan
sosial. Saat itu Dunia Islam mencapai kejayaan yang belum
pernah tertandingi, sekalipun sulit bagi orang Barat untuk
meyakininya karena pemikiran Islam abad kedelapan belas
tidak banyak dipelajari. Pada umumnya abad itu sering
diabaikan oleh para ilmuwan Barat sebagai periode yang
tidak menarik, dan sudah menjadi pendapat yang lazim
bahwa ketika Barat mencapai pencerahan, Islam sedang
mengalami kemunduran. Akan tetapi, baru-baru ini,
perspektif tersebut mendapat tantangan karena terlalu
simplistik. Sekalipun Inggris telah menguasai India pada
tahun 1767, dunia Muslim belum sepenuhnya menyadari
watak tantangan Barat yang memang belum pernah mereka
hadapi sebelumnya. Sufi India Syah Waliullah dari Delhi
(1703-62) mungkin merupakan orang pertama yang
memahami spirit baru itu. Dia adalah seorang pemikir
mengesankan yang menaruh curiga terhadap universalisme
kultural, tetapi percaya bahwa kaum Muslim harus bersatu
untuk melestarikan warisan mereka. Meskipun tidak
menyukai Syiah, dia percaya bahwa Sunni dan Syiah harus
mencari suatu titik temu. Dia mencoba mereformasi syariat
untuk membuatnya lebih relevan dengan kondisi baru di
India. Waliullah tampaknya telah memperkirakan efek jelek
kolonialisme: putranya menjadi pemimpin jihad melawan
Inggris. Pemikiran keagamaannya lebih konservatif dan
sangat bergantung pada Ibn Al-Arabi: manusia tidak dapat
mengembangkan potensinya secara utuh tanpa Tuhan. Kaum
Muslim masih merasa cukup dengan bersandar pada
~588~ (pustaka-indo)

