Page 593 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 593
http://pustaka-indo.blogspot.com
memampukan orang-orang awam untuk menciptakan transisi
imajinatif menuju Dunia Baru modernitas.
Selama 1780-an, Rabi Shneur Zalman dari lyaday (1745-
1813) membuktikan bahwa kegembiraan emosional
Hasidisme juga berdimensi rasional. Dia mendirikan
Hasidisme baru yang berupaya memadukan mistisisme
dengan kontemplasi rasional. Bentuk baru itu dikenal sebagai
Habad, singkatan dari tiga sifat Tuhan: Hokhmah
(Kebijaksanaan), Binah (Kecerdasan), dan Da‘at
(Pengetahuan). Seperti para mistikus terdahulu yang telah
menggabungkan filsafat dengan spiritualitas, Zalman percaya
bahwa spekulasi metafisikal merupakan pendahuluan penting
bagi doa karena dapat menyingkapkan keterbatasan akal.
Tekniknya berawal dari visi Hasidik fundamental tentang
kehadiran Tuhan di dalam segala sesuatu dan membawa
sang mistikus, melalui proses dialektikal, untuk menyadari
bahwa Tuhan adalah satu-satunya realitas. Zalman
menjelaskan: “Dari sudut pandang yang Tak Terbatas,
terpujilah Dia, seluruh dunia seakan-akan tiada dan nihil
64
secara harfiah.” Alam yang tercipta tidak memiliki
eksistensi yang terpisah dari Tuhan, sumber kekuatan
vitalnya. Karena keterbatasan persepsi kita sajalah maka
dunia tampak ada dengan sendirinya, namun ini adalah ilusi.
Oleh karena itu, Tuhan sesungguhnya bukanlah wujud
transenden yang menempati kawasan realitas alternatif: dia
tidak berada di luar dunia. Sesungguhnya, doktrin tentang
transendensi Tuhan merupakan bentuk ilusi lain dari akal kita,
yang menganggap mustahil sesuatu yang melampaui persepsi
indra. latihan-latihan mistik Habad akan membantu orang
Yahudi melampaui persepsi indriawi untuk melihat segala
sesuatu dari sudut pandang Tuhan. Bagi mata yang belum
tercerahkan, dunia kelihatan kosong dari Tuhan: kontemplasi
Kabbalah akan menerobos batas-batas rasional untuk
~586~ (pustaka-indo)

