Page 606 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 606

http://pustaka-indo.blogspot.com
             Ada  yang  mencoba  menyelamatkan  Tuhan  dengan  cara
             mengembangkan  teologi  baru  untuk  membebaskannya  dari
             sistem  pemikiran  empiris  yang  kaku,  namun  ateisme  tetap
             bertahan.

             Ada  pula  reaksi  menentang  kultus  terhadap  akal.  Para
             penyair,   novelis,   dan   filosof   gerakan   Romantik
             mengemukakan  bahwa  rasionalisme  habis-habisan  akan
             bersifat reduktif, karena mengabaikan aktivitas imajinatif dan
             intuitif  manusia.  Sebagian  lainnya  melakukan  penafsiran
             ulang  terhadap  dogma  dan  misteri  Kristen  dengan  cara
             sekular.  Teologi  yang  ditata  kembali  ini  menerjemahkan
             tema-tema lama tentang neraka dan surga, kelahiran kembali
             dan  penebusan  dosa  ke  dalam  idiom  yang  membuatnya
             secara  intelektual  dapat  diterima  pada  era  Pasca-
             Pencerahan,  menghapus  keterkaitannya  dengan  Realitas
             adialami  yang  berada  di  “luar  sana”.  Salah  satu  tema
             “supernaturalisme  natural”  ini,  demikian  kritikus  sastra
                                                 1
             Amerika  M.R.  Abrams  menyebutnya,   berkaitan  dengan
             imajinasi  kreatif.  Imajinasi  ini  dipandang  sebagai daya  yang
             dapat  menyerap  realitas  luar  dengan  cara  tertentu  yang
             dapat menciptakan sebuah kebenaran baru. Penyair Inggris
             John  Keats  (1795-1821)  mengungkapkannya  dengan  lugas:
             “Imajinasi  bagaikan  mimpi  Adam—dia  terjaga  dan
             menemukan  kebenarannya.”  Keats  merujuk  pada  kisah
             penciptaan  hawa  dalam  Paradise  Lost  karya  Milton  yang
             menyebutkan bahwa ketika Adam terjaga, setelah bermimpi
             tentang suatu realitas yang belum lagi tercipta, dia melihatnya
             dalam wujud seorang perempuan yang berdiri di hadapannya.
             Dalam  surat  yang  sama,  Keats  menulis  tentang  imajinasi
             sebagai  daya  pikir  yang  suci:  “Aku  tidak  bisa  memastikan
             apa-apa,  kecuali  tentang  kesucian  perasaan  hati  dan
             kebenaran  imajinasi—apa  yang  ditetapkan  oleh  imajinasi
             sebagai  keindahan  pastilah  juga  merupakan  kebenaran—



                            ~599~ (pustaka-indo)
   601   602   603   604   605   606   607   608   609   610   611