Page 609 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 609

http://pustaka-indo.blogspot.com
             Para filosof seperti Hegel akan menemukan spirit semacam
             itu  pada  peristiwa-peristiwa  sejarah.  Wordsworth  dengan
             cermat  tidak  memberikan  tafsiran  religius  konvensional
             terhadap  pengalaman  ini,  meskipun  dia  suka  berbicara
             tentang  “Tuhan”  dalam  kesempatan  lain,  terutama  dalam
                         8
             konteks  etika.   Kaum  Protestan  Inggris  tidak  begitu  akrab
             dengan Tuhan kaum mistik yang telah dikesampingkan oleh
             para  Reformer.  Tuhan  berbicara  melalui  kesadaran  untuk
             menyerukan  kewajiban;  dia  meluruskan  hasrat  hati,  tetapi
             tampaknya  tidak  banyak  kesamaannya  dengan  “kehadiran”
             yang  dirasakan  Wordsworth  di  dalam  Alam.  Karena
             senantiasa   mementingkan   keakuratan   pengungkapan,
             Wordsworth  hanya  menyebutnya  “sesuatu”,  sebuah  kata
             yang  sering  dipakai  sebagai  pengganti  bagi  definisi  yang
             pasti. Wordsworth menggunakannya untuk melukiskan spirit
             yang enggan dia namai karena tidak cocok dengan kategori
             mana pun yang dikenalnya.

             Penyair  mistis  lain  pada  masa  itu  menyuarakan  nada  yang
             lebih  apokaliptik  dan  memaklumatkan  bahwa  Tuhan  sudah
             mati.  Dalam  puisi  awalnya,  William  Blake  (1757-1827)
             menggunakan metode dialektik: istilah semacam “polos” dan
             “berpengalaman”,  yang  tampak  saling  bertentangan  secara
             diametris,  dipandang  sebagai  separo-kebenaran  dari realitas
             yang  lebih  kompleks.  Blake  telah  mengubah  antitesis
             seimbang  yang  telah  menjadi  ciri  dari  ritme  puisi  bersanjak
             selama  Zaman  Akal  di  Inggris  menjadi  metode  untuk
             membentuk  visi  personal  dan  subjektif.  Di  dalam Songs  of
             Innocence  and  Experience,  dua  keadaan  jiwa  manusia
             yang  saling  bertentangan  diungkap  sebagai  tidak  memadai
             kecuali  jika  keduanya  telah  dipadukan:  kepolosan  harus
             menjadi  pengalaman  dan  pengalaman  itu  sendiri  terperosok
             ke  tempat  terdalam  sebelum  kepolosan  sejati  dipulihkan.
             Sang penyair telah menjadi seorang nabi, “Yang Kini, Dahulu,



                            ~602~ (pustaka-indo)
   604   605   606   607   608   609   610   611   612   613   614