Page 612 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 612

http://pustaka-indo.blogspot.com
             Keyakinan  keagamaan  tak  dapat  dibatasi  pada  pernyataan
             iman  semata:  ia  melibatkan  pemahaman  emosional  dan
             ketundukan  batin.  Pikiran  dan  akal  memiliki  tempatnya
             sendiri, namun keduanya tidak bisa membawa kita lebih jauh.
             Ketika kita tiba pada batas kemampuan akal, perasaan akan
             menyempurnakan  pengembaraan  menuju  Yang  Mutlak.
             Ketika  berbicara  tentang  “perasaan”,  Schleiermacher  tidak
             memaksudkannya     sebagai    emosionalisme   cengeng,
             melainkan  intuisi  yang  mengantarkan  manusia  kepada
             ketakterbatasan.  Perasaan  tidak  ditandingkan  dengan  akal
             manusia,  tetapi  merupakan  lompatan  imajinatif  yang
             membawa  kita  melampaui  yang  partikular  menuju
             pemahaman  menyeluruh.  Kepekaan  tentang  Tuhan,  dengan
             demikian  lebih  menuntut  kebangkitan  dari  kedalaman setiap
             individu daripada pertemuan dengan fakta objektif.

             Sejak era Thomas Aquinas, teologi Barat cenderung terlalu
             menekankan  pentingnya  rasionalitas,  dan  kecenderungan  ini
             terus  meningkat  pada  era  Reformasi.  Teologi  Romantik
             Schleiermacher  merupakan  upaya  untuk  memulihkan
             keseimbangan.  Dia  menegaskan  bahwa  perasaan  bukan
             merupakan  tujuan  pada  dirinya  sendiri  dan  tidak  bisa
             menyuguhkan penafsiran utuh tentang agama. Akal maupun
             perasaan  sama-sama  merujuk  kepada  Realitas  yang  tak
             terlukiskan.  Schleiermacher  mendefinisikan  esensi  agama
                                                 13
             sebagai  “rasa  ketergantungan  mutlak”.   Ini,  sebagaimana
             akan  kita  saksikan,  merupakan  sikap  yang  dibenci  para
             pemikir   progresif   abad   kesembilan   belas,   namun
             Schleiermacher    tidak    memaksudkannya      sebagai
             ketertundukan  hina  di  hadapan  Tuhan.  Dalam  konteksnya,
             frase itu merujuk pada rasa kagum yang timbul di dalam diri
             ketika  kita  merenungkan  misteri  kehidupan.  Kekaguman  ini
             berasal dari pengalaman universal manusia tentang kehadiran
             Tuhan. Nabi-nabi Israel mengalaminya sebagai keterkejutan



                            ~605~ (pustaka-indo)
   607   608   609   610   611   612   613   614   615   616   617