Page 615 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 615

http://pustaka-indo.blogspot.com
             mengilhami  banyak  orang  sezaman  untuk  melakukan  hal
             serupa;  mereka  tampak  seperti  menyatakan  sesuatu  yang
             sama sekali baru, tetapi ketika berhadapan dengan persoalan
             tentang  “Tuhan”,  tanpa  disadari  mereka  sering  mengulang
             lagi  pandangan-pandangan  lama  kaum  monoteis  zaman
             lampau.


             Georg     Wilhelm    Hegel    (1770-1831),    misalnya,
             mengembangkan  sebuah  filsafat  yang  dalam  beberapa  hal
             sangat mirip dengan Kabbalah. Ini sungguh ironis, sebab dia
             memandang  Yudaisme  sebagai  agama  tercela  yang
             bertanggung jawab atas konsepsi primitif tentang Tuhan yang
             telah  memicu  kekeliruan  besar.  Tuhan  Yahudi  dalam
             pandangan Hegel merupakan tiran yang menuntut kepatuhan
             mutlak pada hukum yang tidak dapat ditoleransi. Yesus telah
             berusaha untuk membebaskan manusia dari kepatuhan hina
             ini,  namun  kaum  Kristen  terjerumus  kembali  ke  dalam
             perangkap yang sama seperti kaum Yahudi dan mengajukan
             gagasan  tentang  ilah  yang  Zalim.  Tibalah  saat  untuk
             menyingkirkan  tuhan  barbar  ini  dan  mengembangkan
             pandangan yang lebih tercerahkan tentang kondisi manusia.
             Pandangan  Hegel  yang  sangat  tidak  akurat  tentang
             Yudaisme,  yang  didasarkan  pada  polemik  Perjanjian  Baru,
             merupakan  jenis  baru  antiSemitisme  metafisikal.  Seperti
             halnya  Kant,  Hegel  memandang  Yudaisme  sebagai  contoh
             semua kekeliruan yang mungkin terjadi pada agama. Dalam
             The  Phenomenology  of  Mind  (1807),  dia  mengganti
             gagasan  tentang  Roh  Kudus  yang  menjadi  daya  penggerak
             kehidupan  dengan  tuhan  konvensional.  Namun,  seperti  di
             dalam  Kabbalah,  Roh  itu  bersedia  merasakan  keterbatasan
             dan  keterkucilan  agar  mencapai  spiritualitas  dan  kesadaran
             diri yang sejati. Lagi-lagi seperti di dalam Kabbalah, Roh itu
             bergantung  pada  dunia  dan  pada  manusia  untuk  mencapai
             keutuhan dirinya. Dengan demikian, hegel telah menegaskan




                            ~608~ (pustaka-indo)
   610   611   612   613   614   615   616   617   618   619   620